Banteng Soroti Lawatan Prabowo Ke Prancis dan Keterbukaan Informasi Minim
ASKARA-Intensitas Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri, terutama ke Prancis, menjadi sorotan. Pasalnya sepanjang kurun waktu lima bulan terakhir sejak awal tahun 2026, sudah tiga kali Prabowo melawat ke negara tersebut.
Kali ini sorotan datang dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI PPerjuangan. Untuk itu, partai banteng mancung putih ini meminta pemerintah lebih transparan mengenai agenda dan target yang ingin dicapai dalam setiap kunjungan kenegaraan.
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, membandingkan situasi ini dengan masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dahulu juga sempat menuai kritik publik akibat sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
“Kita juga pernah punya presiden yang dikritik sering ke luar negeri waktu zaman Gus Dur, ya. Sekarang ya orang menyampaikan atau melihat itu pada Pak Prabowo,” ujar Andreas usai menghadiri acara Bimbingan Teknis (Bimtek) PDIP baru-baru ini.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI tersebut juga menyayangkan minimnya keterbukaan informasi sebelum keberangkatan Presiden, khususnya pada kunjungan terbaru ke Prancis yang memicu polemik di masyarakat.
Dia menegaskan tujuan dari lawatan seorang kepala negara seharusnya disampaikan secara terbuka ke publik sejak awal karena presiden pergi membawa nama negara. Tapi entah mengapa hal itu tidak dilakukan.
“Ini kan menjadi pertanyaan karena setelah pergi sampai di sana dulu baru kemudian penjelasannya belakangan. Seharusnya sebelum pergi itu media sudah tahu sehingga publik, rakyat sudah tahu,” tambah Andreas, seraya mendesak Juru Bicara Presiden untuk segera memberikan klarifikasi secara berkala mengenai maksud dan tujuan kunjungan tersebut.
Sekadar diketahui berdasarkan catatan, Presiden Prabowo telah mengunjungi Prancis sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026, yakni pada 23 Januari, 14 April, dan teranyar pada 27 Mei lalu.
Di sisi lain, Sekretariat Kabinet dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa kunjungan terbaru Presiden Prabowo ke Prancis ditujukan untuk memperkuat hubungan bilateral, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Saat bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Prabowo menegaskan pentingnya kolaborasi kedua negara dalam menjaga perdamaian dunia serta menyambut baik penguatan kemitraan strategis komprehensif (CEPA).
Selain membahas isu perdamaian dan stabilitas energi akibat konflik di Timur Tengah, kunjungan tersebut juga menghasilkan capaian ekonomi nyata. Pada Kamis (28/5), kedua kepala negara meresmikan peluncuran France-Indonesia High Level Business Council. Dewan bisnis tingkat tinggi ini diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi dan memperkuat hubungan perdagangan antara Indonesia dan Prancis.(dry)

Komentar