Selasa, 21 Juli 2026 | 22:59
NEWS

KTH Gayo Forest Natural Park Gagas Perkampungan Rumah Pohon Kopi Arabika

KTH Gayo Forest Natural Park Gagas Perkampungan Rumah Pohon Kopi Arabika
Malio Adnan dan Zam Zam Mubarak gagas perkampungan rumah pohon kopi arabika (Dok Askara)

ASKARA – Kelompok Tani Hutan (KTH) Gayo Forest Natural Park menginisiasi program “Perkampungan Rumah Pohon Kopi Arabika Gayo” sebagai model pengembangan ekonomi hijau berbasis perhutanan sosial di kawasan pegunungan Aceh Tengah.

Program tersebut mengintegrasikan konservasi hutan, budidaya Kopi Arabika Gayo, ekowisata edukatif, hingga konsep kampus pembelajaran lapangan bagi mahasiswa dan masyarakat.

Gagasan itu disampaikan Ketua KTH Gayo Forest Natural Park, Malio Adnan, saat menerima kunjungan Tenaga Ahli Satgas Percepatan Rehab Rekon Wilayah Aceh, Zam Zam Mubarak, di kawasan perhutanan sosial binaan KTH, Kamis (28/5/2026).

“Perkampungan Rumah Pohon ini kami rancang bukan hanya untuk wisata, tetapi juga sebagai kampus alam tempat petani, mahasiswa, dan wisatawan belajar tentang kopi Gayo dari hulu ke hilir sambil menjaga hutan tetap lestari,” ujar Malio Adnan.

Menurutnya, konsep yang dikembangkan memiliki tiga pilar utama, yakni konservasi berbasis agroforestri, ekowisata edukatif, dan kampus lapangan.

Dalam konsep konservasi dan kopi, tanaman Kopi Arabika Gayo dibudidayakan di bawah tegakan hutan dengan sistem agroforestri sehingga petani tetap memperoleh hasil ekonomi tanpa merusak fungsi ekologis kawasan hutan.

Sementara pada sektor ekowisata, rumah pohon dibangun menggunakan material ramah lingkungan dan difungsikan sebagai homestay bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana perkebunan kopi di dataran tinggi 1.200 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut.

Wisatawan juga dapat belajar langsung mengenai proses budidaya hingga pascapanen kopi khas Gayo.

Selain itu, kawasan tersebut dirancang menjadi kampus lapangan untuk mahasiswa pertanian, kehutanan, dan pariwisata dengan fokus pembelajaran praktik good agricultural practices, restorasi lahan, hingga pengembangan ekonomi sirkular desa hutan.

Tenaga Ahli Satgas Rehab Rekon Wilayah Aceh, Zam Zam Mubarak, mengapresiasi langkah inovatif yang dilakukan KTH Gayo Forest Natural Park.

Menurutnya, model tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menitikberatkan pada ekonomi hijau dan penguatan perhutanan sosial produktif.

“Ini contoh nyata perhutanan sosial yang naik kelas. Bukan sekadar akses kelola, tetapi menjadi pusat inovasi ekonomi hijau berbasis masyarakat,” ujar Zam Zam Mubarak.

Ia menegaskan Satgas Rehab Rekon Aceh siap mengawal integrasi program tersebut, terutama dalam penguatan infrastruktur penunjang dan skema pembiayaan.

Ke depan, KTH Gayo Forest Natural Park juga akan menggandeng perguruan tinggi, UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta buyer kopi spesialti untuk mengembangkan kurikulum kampus lapangan dan jalur pemasaran kopi “from tree to cup”.

Program tersebut diharapkan menjadi model percontohan pengembangan perhutanan sosial produktif di kawasan pegunungan Gayo maupun wilayah rehab-rekon lainnya di Aceh.

 

Komentar