Rabu, 22 Juli 2026 | 05:51
NEWS

Penelusuran Makam Nyai Menoreh Ungkap Misteri Selir Pajang di Onje

Penelusuran Makam Nyai Menoreh Ungkap Misteri Selir Pajang di Onje
Foto Makam Nyai Menoreh atau Rara Sukartiyah bin Warga Hutama di Dusun Pedang (Dok Arini)

ASKARA - Misteri keberadaan Nyai Menoreh, sosok perempuan yang selama ini hidup dalam cerita tutur masyarakat Purbalingga, kembali mencuat setelah dilakukan penelusuran spiritual dan historis di wilayah Onje, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Penelusuran tersebut dilakukan oleh R.Ngt. Arini Sanjaya SE Ketua DPW PMBN Banyumas Raya, bersama  Seto Aji  disertai Kadus Arif dan rekan pada 17 Mei 2026 di kawasan Bukit Surti dan Bukit Jati Ragas, wilayah yang diyakini memiliki kaitan erat dengan sejarah awal Kadipaten Onje. Penyusunan jurnal penelusuran tersebut juga mendapat pembimbingan spiritual dari Drs. R. Djuhartanto.

Dalam jurnal penelusurannya, Arini mencoba mengurai misteri Nyai Menoreh melalui pendekatan spiritual, urban legend, data primer, hingga penelusuran lokasi-lokasi yang diyakini terkait dengan sosok tersebut.

Bukit Surti dan Kisah "Lungsuran Putri"

Penelusuran dimulai di Bukit Surti, sebuah kawasan yang berada tidak jauh dari Sungai Onje. Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, nama Surti berasal dari istilah "Lungsuran Putri" yang diyakini berkaitan dengan kisah seorang putri buangan.

Di lereng sungai kecil kawasan tersebut, tim menemukan sebuah batu yang disebut warga sebagai "Batu Semedi," tempat bertapa pada masa lampau. Tak jauh dari lokasi itu juga ditemukan dua makam kuno bertanda batu yang oleh Arini diyakini sebagai makam Ki Ringgit dan Ni Ringgit.

Menurut penuturan warga, kawasan itu juga kerap dikaitkan dengan kemunculan ular besar yang menjadi bagian dari legenda Bukit Surti.

Dalam proses meditasi yang dilakukan di lokasi, Arini mengaku mengalami mediumisasi dan merasakan kehadiran sosok yang diyakini sebagai Nyai Menoreh. Dalam dialog spiritual tersebut, sosok itu mengaku mengalami penderitaan lahir batin dan menyebut kata "Pedang" ketika ditanya lokasi makamnya.

Makam Nyai Menoreh Diduga di Dusun Pedang

Tim kemudian melanjutkan penelusuran ke kompleks makam istri Adipati Onje di Dusun Pedang yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Di lokasi tersebut, Arini kembali melakukan meditasi dan mengaku mendapatkan petunjuk bahwa makam Nyai Menoreh berada di area pintu masuk kompleks makam tersebut. Dalam mediumisasi yang diklaim terjadi, sosok yang diyakini Nyai Menoreh juga menyebut dirinya sebagai ibu dari  Anyakrapati, tokoh yang dikenal sebagai Adipati Onje II.

Berdasarkan hasil penelusuran spiritual dan kajian babad, Arini menyimpulkan bahwa Nyai Menoreh kemungkinan adalah Rara Sukartiyah binti Warga Hutama, putri Adipati Wirasaba VI yang disebut dalam Babad Banjarnegara.

Rara Sukartiyah diyakini pernah menjadi selir Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir di Kerajaan Pajang sebelum akhirnya meninggalkan istana dalam keadaan hamil. Dalam perjalanan menuju Wirasaba, ia diduga melahirkan di kawasan Onje dan kemudian dirawat oleh Ki Tepus Rumput.

Ki Tepus Rumput dan Awal Kadipaten Onje

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa Ki Tepus Rumput merupakan Adipati Onje pertama yang memiliki kaitan dengan tokoh spiritual Syech Pangeran Atas Angin.

Ki Tepus Rumput disebut menikahi Nyai Menoreh setelah sebelumnya kehilangan istri pertamanya dari Kerajaan Pasir Luhur. Ia kemudian merawat putra Nyai Menoreh, Pangeran Anyakrapati, hingga kelak menjadi Adipati Onje II.

Penelusuran juga dilakukan di petilasan Ki Tepus Rumput di puncak Bukit Jati Ragas yang dipercaya menjadi lokasi pertapaan tokoh tersebut.

Misteri Cincin Socaludira

Jurnal tersebut turut mengaitkan kisah Nyai Menoreh dengan legenda Cincin Socaludira, pusaka milik Sultan Hadiwijaya.

Dalam Babad Onje disebutkan Sultan Pajang mengadakan sayembara bagi siapa saja yang mampu menemukan cincin pusaka Socaludira yang jatuh ke sumur Jumbleng. Sayembara itu dimenangkan Ki Tepus Rumput yang kemudian mendapat hadiah tanah dan seorang selir bernama Nyai Menoreh.

Namun Arini memiliki tafsir berbeda. Menurutnya, "Cincin Socaludira" kemungkinan merupakan simbol atau sanepa dari sosok selir kesayangan Sultan Hadiwijaya.

Ia menduga "sayembara mencari cincin" sebenarnya merupakan upaya menemukan selir yang pergi dari Kerajaan Pajang. Dalam interpretasi spiritual tersebut, Nyai Menoreh diyakini melarikan diri akibat konflik di lingkungan kaputren saat dirinya hamil.

Pendekatan Spiritual dan Sejarah

Arini menegaskan bahwa tulisannya bukan bertujuan mengubah atau memalsukan sejarah, melainkan menjadi upaya penulisan sejarah alternatif melalui pendekatan spiritual dan meditasi di lokasi-lokasi yang diyakini berkaitan dengan Nyai Menoreh.

Penyusunan jurnal tersebut juga disebut mendapat arahan dan pembimbingan dari Drs. R. Djuhartanto dalam upaya merangkai narasi sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Onje.

"Semoga Nyai Rara Sukartiyah atau Nyai Menoreh damai di alam sana," tulis Arini dalam penutup jurnalnya tertanggal 21 Mei 2026.

Penelusuran ini kini memunculkan kembali perhatian masyarakat terhadap sejarah awal Kadipaten Onje dan berbagai legenda lama yang selama ini hanya hidup dalam cerita tutur masyarakat  Purbalingga.

 

 

Komentar