Kamis, 23 Juli 2026 | 13:42
NEWS

72 Mahasiswa Gaza Lanjut Kuliah di Roma, Bawa Harapan Baru

72 Mahasiswa Gaza Lanjut Kuliah di Roma, Bawa Harapan Baru
Paus Leo XIV menemui mahasiswa Gaza yang melanjutkan kuliah di Roma (Dok VaticanNews)

ASKARA - Sebanyak 72 mahasiswa asal Jalur Gaza tiba di Roma, Italia, pekan ini untuk melanjutkan pendidikan mereka melalui program koridor kemanusiaan dan pendidikan yang digagas bersama Universitas Sapienza Roma, Keuskupan Roma, dan Komunitas Sant’Egidio.

Kedatangan para mahasiswa tersebut menjadi simbol harapan baru bagi generasi muda Palestina yang selama ini terdampak perang berkepanjangan di Gaza. Program tersebut tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga memberi peluang bagi mereka membangun kembali masa depan yang sempat terputus akibat konflik.

Empat mahasiswa Gaza di antaranya resmi diterima di Universitas Sapienza Roma untuk tahun akademik 2025–2026. Mereka akan mengikuti program perkuliahan berbahasa Inggris dengan dukungan penuh berupa beasiswa, tempat tinggal, pendampingan akademik, layanan kesehatan, hingga dukungan psikologis.

Kehadiran mahasiswa Palestina itu turut mendapat perhatian Paus Leo XIV saat mengunjungi Universitas Sapienza. Dalam pidatonya, Paus menegaskan pentingnya universitas menjadi ruang dialog, perdamaian, dan harapan bagi generasi muda dunia.

Paus Leo XIV juga mengapresiasi pembukaan jalur kemanusiaan pendidikan bagi mahasiswa Gaza. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata keberpihakan pada kehidupan, keadilan, dan masa depan generasi muda yang menjadi korban perang.

Salah satu mahasiswa, Nada Jouda (19), mengaku perang telah menghentikan pendidikan dan menghancurkan kehidupan keluarganya di Rafah. Ayahnya meninggal pada 2023, sementara rumah mereka rusak akibat konflik.

“Ketika perang dimulai, saya sedang di tahun terakhir sekolah. Setelah itu kami tidak sekolah hampir dua tahun,” ujar Nada kepada Vatican News.

Nada menceritakan bagaimana dirinya bersama ibu dan dua adiknya harus berpindah-pindah tempat pengungsian, tinggal di tenda hingga rumah rusak tanpa fasilitas memadai. Ia juga mengaku tetap membawa buku pelajaran ke mana pun pergi agar tetap bisa belajar di tengah situasi perang.

Selain kesulitan hidup, Nada juga khawatir terhadap kondisi kesehatan ibunya yang pernah menderita leukemia dan kini kesulitan mendapatkan layanan medis karena banyak rumah sakit di Gaza hancur akibat perang.

“Saya ingin semua orang tahu apa yang kami alami di Gaza. Saya ingin menjadi kebanggaan ibu dan adik-adik saya,” katanya.

Mahasiswa lainnya, Salem Abumustafa (20), asal Khan Younis, mengatakan rumah keluarganya yang bertingkat empat hancur selama perang. Keluarganya kini tinggal di tenda dengan keterbatasan listrik dan air bersih.

“Saya datang ke sini untuk masa depan yang lebih baik dan membuat keluarga bangga,” ujar Salem.

Program kemanusiaan pendidikan ini juga melibatkan Komunitas Sant’Egidio yang akan memberikan kursus bahasa dan budaya Italia bagi para mahasiswa Palestina. Sementara Keuskupan Roma menyediakan tempat tinggal gratis hingga para mahasiswa menyelesaikan studi mereka.

Kehadiran mahasiswa Gaza di Italia menjadi gambaran bahwa pendidikan tetap menjadi harapan penting di tengah kehancuran perang. Mereka membawa mimpi baru untuk bangkit, sekaligus menyuarakan perdamaian bagi tanah kelahiran mereka, Palestina.

 

Komentar