Rabu, 22 Juli 2026 | 02:32
NEWS

Selat Hormuz-Malaka Pengaruhi Kopi Gayo

Selat Hormuz-Malaka Pengaruhi Kopi Gayo
Zam Zam Mubarak (Dok Askara)

ASKARA -  Dinamika geopolitik global yang terjadi di dua jalur pelayaran strategis dunia, Selat Hormuz dan Selat Malaka, ternyata memberi dampak langsung terhadap keberlanjutan produksi dan distribusi kopi Arabika Gayo di Aceh Tengah.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, mengungkapkan bahwa kedua selat tersebut merupakan “urat nadi” perdagangan global yang berpengaruh dari hulu hingga hilir industri kopi Gayo.

Selat Hormuz, yang mengendalikan sekitar 20–30 persen pasokan minyak dunia, memiliki peran penting dalam distribusi bahan baku pupuk global seperti urea, KCl, dan amonia. Ketegangan geopolitik di kawasan ini, kata Zam Zam, berdampak langsung pada kenaikan harga pupuk yang digunakan petani kopi.

“Ketika pasokan terganggu, biaya produksi meningkat, margin petani tertekan, dan stabilitas usaha kebun ikut terganggu,” ujarnya.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pupuk impor membuat sistem produksi kopi Gayo sangat rentan terhadap dinamika global yang berada di luar kendali petani.

Sementara itu, Selat Malaka menjadi jalur utama distribusi kopi Gayo ke pasar internasional. Lebih dari 90 persen ekspor kopi Indonesia melewati selat ini menuju Eropa dan Amerika Serikat.

Namun, jalur tersebut juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kepadatan lalu lintas laut, potensi gangguan keamanan, hingga fluktuasi biaya logistik dan asuransi.

“Dalam pasar specialty coffee, keterlambatan distribusi bisa berdampak besar terhadap kualitas, kontrak dagang, hingga reputasi produk,” jelasnya.

Zam Zam menilai, posisi kopi Gayo saat ini berada di antara dua ketergantungan besar, yakni pada pasokan input dari jalur Hormuz dan distribusi ekspor melalui Selat Malaka.

Untuk itu, ia mendorong penguatan kemandirian sektor kopi melalui pendekatan berbasis teknologi dan kawasan produktif. Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain pemanfaatan teknologi mikroba tanah, peningkatan efisiensi budidaya, serta penguatan hilirisasi di tingkat lokal.

“Ini bukan sekadar inovasi teknis, tetapi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal berbasis geopolitik,” tegasnya.

Dengan langkah tersebut, diharapkan ketergantungan pada pupuk impor dapat ditekan, nilai tambah produk meningkat, serta daya tahan sektor kopi terhadap fluktuasi global menjadi lebih kuat.

Zam Zam menambahkan, kopi Gayo tidak lagi bisa dipandang sebagai komoditas lokal semata, melainkan bagian dari sistem global yang saling terhubung.

“Solusinya bukan menghindari globalisasi, tetapi memperkuat sistem internal, membangun kemandirian input, dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” pungkasnya.

 

 

Komentar