Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:30
LIFESTYLE

Psikolog Papua Selatan Soroti Lonjakan Kasus Kesehatan Mental

Psikolog Papua Selatan Soroti Lonjakan Kasus Kesehatan Mental
Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Wilayah Provinsi Papua Selatan, Andriana Mailoa, S.Psi., M.Psi., (Dok Askara)

ASKARA - Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Wilayah Provinsi Papua Selatan, Andriana Mailoa, S.Psi., M.Psi., menyoroti meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental di masyarakat, khususnya di kalangan pekerja.

Hal itu disampaikan Andriana saat ditemui Askara di tempat praktiknya di Lembaga Bantuan Psikologi (LBP) Kharisma, Sabtu (18/4). Ia diketahui menjabat sebagai Ketua HIMPSI Papua Selatan sejak Juni 2024 dengan jumlah anggota sebanyak 17 psikolog.

LBP Kharisma sendiri telah berdiri sejak 2008, didirikan oleh Andriana Mailoa bersama Virgin Lapulalang, S.Psi., dan Eva Pasaribu, S.Psi. Lembaga ini memberikan layanan psikologi bagi masyarakat umum, termasuk penyandang disabilitas, terutama anak-anak berkebutuhan khusus, serta terapi bagi anak dengan autisme.

Menurut Andriana, yang akrab disapa Ona, isu kesehatan mental kini menjadi persoalan yang sangat krusial dan perlu mendapat perhatian serius. Ia mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya hampir setiap hari menerima klien dengan berbagai persoalan psikologis.

“Belakangan ini hampir setiap hari kami kedatangan klien dengan masalah pribadi terkait kesehatan mental,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di dunia kerja saat ini banyak individu menghadapi tekanan yang berdampak pada kondisi mental, mulai dari stres ringan hingga depresi berat. Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pihaknya akan merujuk pasien ke RSUD Merauke agar mendapatkan perawatan dari psikiater.

Lebih lanjut, Andriana memaparkan tahapan kondisi stres yang umum dialami seseorang. Pada tahap ringan, individu masih mampu fokus dan memiliki semangat. Namun, pada tahap berikutnya mulai muncul kecemasan berlebihan, kelelahan, serta kesulitan untuk rileks.

“Pada kondisi ini, penting untuk melakukan perawatan diri, seperti istirahat cukup, berbagi cerita dengan orang terpercaya, dan membatasi paparan informasi negatif,” jelasnya.

Sementara pada tingkat yang lebih berat atau burnout, seseorang dapat mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, mudah marah, hingga perasaan hampa. Dalam kondisi tersebut, ia menyarankan agar individu mengambil waktu istirahat atau cuti sejenak untuk pemulihan diri.

“Jika gejala ini tidak ditangani dengan serius, bisa berujung fatal, termasuk risiko bunuh diri. Karena itu, penting bagi setiap orang memiliki ruang untuk berbagi, mendapatkan dukungan positif, serta memperkuat diri melalui aktivitas yang menenangkan, termasuk berdoa,” tambahnya.

Lulusan Universitas Gunadarma tahun 2003 dan Magister Profesi Psikologi tahun 2014 itu menegaskan pentingnya edukasi kesehatan mental agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

 

 

Komentar