Kopi Gayo Jadi Andalan, RKPD 2027 Dorong Ekonomi Aceh Tengah
ASKARA - Forum Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 Kabupaten Aceh Tengah menjadi momentum strategis dalam merumuskan arah baru pembangunan daerah, terutama pada sektor pertanian dan pemulihan pasca bencana.
Dalam forum tersebut, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia Daerah Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, menegaskan bahwa kebijakan pembangunan ke depan harus melampaui sekadar pemulihan, dan berfokus pada pembentukan sistem ekonomi yang produktif serta berkelanjutan.
“Aceh Tengah memiliki potensi besar, terutama dari sektor kopi arabika Gayo yang selama ini menjadi panglima ekonomi. Namun tantangan kita bukan pada produksi, melainkan bagaimana nilai tambahnya tidak keluar dari daerah,” ujarnya, Rabu (15/4).
Menurutnya, selama ini rehabilitasi lahan pasca bencana maupun lahan dengan produktivitas menurun masih dilakukan secara parsial. Pendekatan tersebut dinilai tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
“Rehabilitasi lahan harus ditransformasikan menjadi sistem produktif berbasis kawasan. Jadi bukan hanya memulihkan kondisi tanah, tetapi langsung menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Zam Zam menawarkan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan pemulihan kualitas tanah, penguatan komoditas unggulan seperti kopi Gayo, hingga sistem distribusi dan pengolahan dalam satu kawasan yang terukur.
Sebagai penguatan teknis, Dekopinda mendorong penerapan Soil Intelligence System, yakni sistem pemantauan kondisi tanah berbasis sensor, data lapangan, dan analisis teknologi. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat, presisi, dan berbasis data.
Pendekatan tersebut juga didukung dengan pemanfaatan teknologi mikroba untuk mempercepat pemulihan tanah serta penerapan sistem pertanian cerdas dalam pengelolaan kawasan.
Di tengah peluang fiskal pasca bencana, termasuk potensi dukungan dari skema rehabilitasi dan rekonstruksi nasional, konsep ini dinilai relevan untuk diuji melalui proyek percontohan (pilot project) di kawasan terbatas.
Kehadiran Dekopinda dalam forum Musrenbang ini dinilai menjadi penguatan legitimasi awal bagi model pembangunan berbasis kawasan terintegrasi tersebut. Model ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan rehabilitasi lahan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
Dengan pendekatan baru ini, rehabilitasi tidak lagi menjadi beban anggaran berulang, melainkan bertransformasi menjadi investasi produktif yang mampu mendorong kemandirian ekonomi Aceh Tengah di masa depan.

Komentar