Rabu, 22 Juli 2026 | 04:22
NEWS

Paus Leo XIV Awali Misi Afrika dari Aljazair, Serukan Perdamaian

Paus Leo XIV Awali Misi Afrika dari Aljazair, Serukan Perdamaian
Paus Leo XIV dan Rektor Great Mosque of Algiers (Dok Vaticannews)

ASKARA - Paus Leo XIV memulai perjalanan apostoliknya di Afrika dengan agenda padat di Aljazair, Senin (13/4). Dalam kunjungan hari pertama tersebut, Paus bertemu pejabat negara, mengunjungi masjid, hingga berdoa bersama komunitas lintas agama.

Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian perjalanan 10 hari Paus Leo XIV ke empat negara Afrika, yakni Algeria, Cameroon, Angola, dan Equatorial Guinea, yang berlangsung pada 13–23 April.

Setibanya di ibu kota Algiers, Paus mengunjungi Monumen Para Martir Maqam Echahid, yang mengenang korban perang kemerdekaan Aljazair 1954–1962. Dalam pidato publik perdananya, Paus menegaskan pentingnya perdamaian dan kebebasan yang diperjuangkan setiap hari.

“Masa depan adalah milik mereka yang memilih jalan damai,” pesannya.

Selanjutnya, Paus melakukan kunjungan kehormatan ke Istana Presiden dan bertemu pimpinan negara Aljazair. Dalam pertemuan dengan otoritas negara, masyarakat sipil, dan korps diplomatik di pusat konferensi Djamaa El Djazair, ia mengajak semua pihak menjunjung tinggi martabat manusia dan menghindari konflik yang memperdalam perpecahan.

Pada sore hari, Paus mengunjungi Great Mosque of Algiers. Di sana, ia melakukan refleksi hening bersama Rektor Mohamed Mamoun Al Qasimi, sekaligus menegaskan pentingnya saling menghormati di tengah keberagaman. Kunjungan ini dinilai simbolis, mengingat Aljazair merupakan negara dengan mayoritas Muslim dan komunitas Kristen sebagai minoritas.

Agenda berlanjut dengan kunjungan pribadi ke komunitas Suster Misionaris Agustinian di Bab El Oued. Paus mengenang para biarawati yang gugur dalam konflik sipil Aljazair pada dekade 1990-an, seraya menekankan nilai kesaksian iman hingga pengorbanan tertinggi.

Menutup hari yang padat, Paus Leo XIV berdoa bersama umat di Basilica of Our Lady of Africa. Meski cuaca buruk melanda, umat tetap memadati basilika, bahkan mengikuti dari luar. Dalam pertemuan tersebut, Paus mendengarkan kesaksian umat lintas agama yang hidup berdampingan secara damai.

“Di dunia yang dipenuhi konflik, pengalaman persatuan seperti ini adalah tanda harapan,” ujarnya.

Hari pertama perjalanan apostolik ditutup dengan pertemuan tertutup bersama para uskup setempat di Nunsiatur Apostolik.

 

 

Komentar