Kamis, 23 Juli 2026 | 11:05
NEWS

Rundingan 21 Jam Berakhir Buntu, Timur Tengah di Ambang Ledakan

Dunia Terancam Krisis Energi dan Perang Meluas

Rundingan 21 Jam Berakhir Buntu, Timur Tengah di Ambang Ledakan
Ilustrasi perundingan yang gagal (Dok Askara)

ASKARA - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah berujung buntu. Perundingan tatap muka yang berlangsung maraton selama 21 jam di ibu kota Pakistan, Islamabad, ditutup tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026) dini hari.

Kegagalan ini memperpanjang ketidakpastian atas nasib gencatan senjata yang rapuh, di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari enam pekan dan memicu lonjakan harga minyak dunia.

Kedua pihak saling menyalahkan atas mandeknya negosiasi. Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menyebut Iran tidak bersedia menerima syarat utama yang diajukan Washington, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kami belum mencapai kesepakatan, dan itu merupakan kabar buruk, terutama bagi Iran,” ujar Vance kepada wartawan sebelum meninggalkan Islamabad.

Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan secara jelas batasan-batasan yang tidak bisa ditawar dalam perundingan tersebut. “Kami bernegosiasi dengan itikad baik,” tambahnya.

Setelah perundingan berakhir, delegasi AS langsung bertolak kembali ke negaranya, sementara rombongan Iran dijadwalkan meninggalkan Pakistan beberapa waktu kemudian.

Pertemuan ini menjadi salah satu upaya diplomasi paling intens dalam beberapa tahun terakhir untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, kegagalan mencapai titik temu menunjukkan masih lebarnya jurang perbedaan antara kedua negara, khususnya terkait isu nuklir dan keamanan regional.

Situasi ini berpotensi memperpanjang konflik dan menambah tekanan terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi yang sudah terdampak signifikan sejak pecahnya perang.

 

 

Komentar