Selasa, 21 Juli 2026 | 22:18
LIFESTYLE

Sentuhan Om Piet Jadi Harapan Baru Bagi Banyak Pasien Sakit

Sentuhan Om Piet Jadi Harapan Baru Bagi Banyak Pasien Sakit
Om Piet ketika sedang menangani pasien di Pulo Gebang, Jakarta Timur (Dok Askara)

ASKARA - Sosok Pieter Dasion, yang akrab disapa Om Piet, menjadi perbincangan banyak kalangan berkat kemampuannya membantu orang menemukan kembali kesehatan melalui terapi pijat berbasis titik-titik tubuh.

Pensiunan karyawan Gramedia ini memiliki metode unik. Ia terlebih dahulu memeriksa kondisi pasien melalui sentuhan jari-jemari tangan untuk mendeteksi organ yang bermasalah. Setelah itu, ia melakukan terapi pada titik-titik tertentu di bagian lengan, pinggang, hingga area tubuh lainnya guna melancarkan peredaran darah.

Kemampuan tersebut mulai ia tekuni sejak Juni 2011. Awalnya terjadi secara tidak sengaja, saat ia membantu seorang kerabat yang menderita batu ginjal. Dengan refleks, Om Piet memijat bagian tubuh kerabatnya, dan tak lama kemudian batu ginjal tersebut keluar saat buang air kecil. Peristiwa itu menjadi titik awal perjalanan pengabdiannya di dunia terapi alternatif.

Lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini sebelumnya aktif bekerja di lingkungan Kompas Gramedia. Di sana, ia kerap dimintai bantuan oleh rekan kerja hingga kalangan pimpinan, termasuk tokoh pers nasional Yakob Oetama.

Seiring waktu, pasien yang datang kepadanya semakin beragam, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat negara. Menariknya, Om Piet tidak mematok tarif atas jasanya. Ia mengaku menjalankan terapi ini sebagai bentuk pelayanan dengan penuh kasih, khususnya untuk membantu melancarkan sistem peredaran darah yang bermasalah.

Pengakuan positif datang dari berbagai kalangan, salah satunya Raldy Doy, anggota Dewan Pakar PWI Pusat. Ia mengaku merasakan langsung manfaat terapi Om Piet bersama keluarganya.

“Kami sekeluarga menjadi pasien Om Piet, dan terapi Om Piet sangat membantu, mulai dari ibu mertua hingga kami sekeluarga,” kata Raldy Doy.

Hal senada disampaikan Wilhelmus Lawe, seorang pelaut yang bekerja di Timur Tengah. Ia juga mengaku telah merasakan manfaat dari sentuhan terapi Om Piet dalam membantu pemulihan kesehatannya.

Dalam kesehariannya, Om Piet sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk melayani pasien. Dalam catatan yang ia bagikan, dalam satu pekan ia bisa menangani beberapa keluarga sekaligus di berbagai wilayah seperti Kramat Jati, Cinere, Cipete, hingga Bekasi, dengan keluhan yang beragam mulai dari gangguan tiroid, alergi, migrain, hingga saraf terjepit.

“Orang-orang mencari alternatif untuk kembali sehat, apalagi di tengah tekanan hidup di kota besar,” ujar Om Piet.

Ia juga menceritakan pengalamannya membantu seorang lansia yang mengalami pembengkakan serius hingga kesulitan berjalan. Melalui terapi accupressure selama sekitar 15 menit, kondisi pasien disebutnya membaik dan kembali bisa beraktivitas normal.

Pengalaman lainnya adalah saat ia menangani pasien pasca serangan jantung yang mengalami pembengkakan tubuh dan sesak napas akibat komplikasi obat. Setelah terapi, pasien mengaku merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya.

Meski demikian, Om Piet tetap menekankan pentingnya peran medis. Ia selalu menyarankan pasien untuk tetap berkonsultasi dengan dokter, terutama dalam penanganan obat-obatan.

Tak hanya itu, ia juga pernah membantu seorang dokter yang telah enam tahun mengalami stroke. Dalam terapi yang dilakukannya, ia melihat adanya respons positif, termasuk peningkatan kemampuan bicara pasien.

Bagi Om Piet, apa yang dilakukannya bukan sekadar terapi, melainkan bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Indahnya berbagi, selagi masih bisa,” katanya.

Dengan prinsip tersebut, Om Piet terus menjalani panggilan hidupnya, membantu sesama menemukan harapan untuk sehat melalui sentuhan sederhana namun penuh makna.

Om Piet melayani pasien di salah satu rumah mantan pasiennya di Perumahan Kemang Pratama, Bekasi, setiap hari Sabtu, mulai pukul 13.00 hingga 17.00, dengan mendaftar di nomor WA 081316748400.

 

Komentar