Rabu, 22 Juli 2026 | 03:19
NEWS

Refleksi Antropologi Sistem, Saurip Kadi Kritik Tafsir Agama yang Lepas dari Konteks Sosial

Refleksi Antropologi Sistem, Saurip Kadi Kritik Tafsir Agama yang Lepas dari Konteks Sosial
Saurip Kadi (Dok Askara)

ASKARA - Pemahaman agama yang tidak kontekstual dinilai menjadi salah satu akar persoalan konflik sosial dan krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Hal ini disampaikan Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi dalam refleksinya bertajuk "Menggugat Kebenaran Agama (Refleksi Antropologi Sistem)," Sabtu (11/4).

Dalam tulisannya, Saurip menegaskan, agama dan budaya merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Agama hadir membawa misi keselamatan, sementara budaya menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, ia menilai, problem mendasar yang terjadi saat ini bukan terletak pada ajaran agama itu sendiri, melainkan pada cara manusia memahami teks-teks suci. Penafsiran yang kaku dan lepas dari konteks kerap menjadikan agama kehilangan substansi sebagai petunjuk hidup.

"Firman Tuhan sering kali dipahami hanya sebagai teks atau simbol, bukan sebagai panduan nyata dalam membangun kehidupan yang bermartabat," tulisnya.

Saurip menyebut kondisi ini sebagai "kekonyolan yang terus berlanjut," di mana manusia seolah terjebak dalam penjara keyakinan yang tidak dipahami secara utuh. Ia menekankan pentingnya memahami "teks dalam konteks" agar ajaran agama tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam menjelaskan pendekatan tersebut, ia mengacu pada pemikiran Plato yang menggambarkan manusia sebagai "teks" yang sulit dibaca. Menurutnya, memahami manusia dan ajaran agama membutuhkan pendekatan kritis serta alat bantu ilmu pengetahuan, yang dianalogikan sebagai "kaca pembesar" untuk melihat makna yang tersembunyi.

Ia juga menyoroti pentingnya refleksi antropologi sistem, yaitu pendekatan yang menggali secara mendalam realitas manusia, budaya, serta dinamika sosial. Pendekatan ini dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai normatif agama (das Sollen) dan realitas yang terjadi (das Sein).

Dalam konteks global, Saurip menyinggung berbagai konflik yang kerap dikaitkan dengan agama, seperti ketegangan di Israel dan Palestina, serta rivalitas antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menilai, konflik tersebut lebih banyak dipicu oleh kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan, namun sering dibungkus dengan narasi keagamaan.

"Menjadi ironi ketika konflik yang sejatinya bersifat politik justru dianggap sebagai bagian dari ajaran agama," ujarnya.

Saurip juga menyoroti masih kuatnya sentimen SARA di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menunjukkan bahwa pemahaman agama belum sepenuhnya mampu mendorong kehidupan yang damai dan harmonis.

Lebih lanjut, ia menegaskan, manusia tidak pernah terlepas dari budaya. Karena itu, agama seharusnya tidak meniadakan budaya lokal, melainkan berinteraksi dan menemukan titik temu yang memperkaya peradaban manusia.

Ia mengingatkan, para nabi tidak datang untuk menggantikan budaya masyarakat, tetapi untuk memberikan nilai dan arah moral dalam kehidupan. Oleh karena itu, integrasi antara agama dan budaya menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang beradab.

Dalam refleksinya, Saurip juga menyinggung pentingnya pemahaman historis terhadap teks agama, termasuk konsep "asbabun nuzul" dalam Islam, yakni konteks turunnya wahyu. Menurutnya, tanpa memahami latar belakang historis, makna ajaran agama berpotensi disalahartikan.

Ia memberi contoh bagaimana istilah-istilah dalam kitab suci sering mengalami pergeseran makna seiring waktu, sehingga membutuhkan kajian yang lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, apalagi konflik.

Di sisi lain, Saurip turut mengkritisi praktik kehidupan berbangsa dan bernegara yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan agama. Ia menilai, inkonsistensi dalam sistem politik, hukum, dan ekonomi turut memperparah krisis moral dan identitas bangsa.

Menurutnya, ajaran agama seharusnya menjadi landasan etis dalam penyusunan konstitusi, undang-undang, serta kebijakan publik. Tanpa itu, agama hanya akan menjadi simbol tanpa daya transformasi sosial.

Ia juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir atau switching of mindset dalam memahami agama dan realitas sosial. Perubahan ini, kata dia, harus berangkat dari refleksi kritis yang mendalam terhadap sistem nilai yang selama ini dianut.

"Manusia memiliki panggilan untuk memperbarui kehidupan. Karena itu, cara berpikir harus terus berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman," tegasnya.

Saurip menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa agama seharusnya menjadi sumber kebaikan universal, bukan justru menjadi pemicu konflik dan kerusakan.

"Jika dipahami dengan benar, agama akan melahirkan akhlak mulia dan peradaban yang damai. Namun jika disalahpahami, ia justru bisa menjadi sumber malapetaka kemanusiaan," pungkasnya.

Melalui pemikirannya, ia mengajak para pemuka agama, akademisi, dan masyarakat luas untuk melakukan pembaruan cara pandang terhadap agama, dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan konteks sosial sebagai bagian tak terpisahkan dalam memahami ajaran suci.

 

 

Komentar