Indonesia Berpeluang Geser Dominasi Singapura di Selat Malaka
ASKARA - Dominasi Singapura di jalur strategis Selat Malaka dinilai masih sangat kuat, meski secara geografis wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Indonesia dan Malaysia. Namun, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan peran dan bahkan menggeser dominasi tersebut jika mampu mengoptimalkan potensi maritimnya.
Peneliti Nusantara Centre, Riskal Arief, menjelaskan bahwa sejak masa lampau, kekuatan di Selat Malaka tidak ditentukan oleh penguasaan wilayah laut, melainkan oleh kemampuan mengendalikan titik-titik perdagangan strategis seperti pelabuhan.
Menurutnya, perubahan besar terjadi ketika Stamford Raffles mendirikan Singapura sebagai pelabuhan bebas pada 1819. Kebijakan tersebut berhasil menarik arus perdagangan global untuk singgah, didukung oleh efisiensi logistik dan sistem keuangan yang terintegrasi.
“Hingga saat ini, Singapura tidak menguasai Selat Malaka secara teritorial, tetapi mengendalikan arus barang, jasa, dan kapital yang melintas, sehingga menjadi pusat distribusi global,” ujarnya, Kamis (9/4).
Dari sisi ekonomi, Singapura mampu memonetisasi aktivitas di Selat Malaka melalui berbagai sektor, mulai dari pelabuhan, bahan bakar kapal (bunkering), hingga jasa keuangan maritim. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional negara tersebut.
Sementara itu, Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya efisiensi logistik, konektivitas hinterland yang belum optimal, serta belum terintegrasinya kawasan industri dengan pelabuhan. Kondisi ini membuat banyak kapal internasional hanya melintas tanpa singgah di pelabuhan Indonesia.
Meski demikian, peluang untuk meningkatkan peran tetap terbuka. Salah satunya melalui pengembangan pelabuhan strategis seperti Kuala Tanjung di Sumatra Utara yang diarahkan menjadi hub internasional.
“Jika mampu mengonsolidasikan arus barang, meningkatkan efisiensi, dan membangun ekosistem industri yang terintegrasi, Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar jalur lintasan menjadi pemain aktif dalam rantai perdagangan global,” jelasnya.
Selain itu, Indonesia juga dinilai dapat memanfaatkan posisi geografisnya sebagai leverage geopolitik, seperti yang dilakukan Iran dalam mengelola Selat Hormuz sebagai titik strategis energi dunia.
Ke depan, kombinasi antara penguatan infrastruktur, reformasi logistik, dan strategi geopolitik diyakini menjadi kunci bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di Selat Malaka.
Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi jalur pelayaran, tetapi juga aktor penting yang menentukan arah arus perdagangan global.

Komentar