Senin, 08 Juni 2026 | 18:01
OPINI

Ketulusan Kasih-Sayang

Ketulusan Kasih-Sayang
Jaya Suprana dan Melly Goeslaw (Dok JSS)

OLEH: JAYA SUPRANA

Kubuka album biru / Penuh debu dan usang

Kupandangi semua gambar diri / Kecil, bersih, belum ternoda

Pikirku pun melayang / Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang / Tentang riwayatku

Kata mereka, diriku s'lalu dimanja

Kata mereka, diriku s'lalu ditimang

Nada-nada yang indah / S'lalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku / Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci / T'lah mengangkat tubuh ini

Jiwa-raga dan seluruh hidup / Rela dia berikan

Kata mereka, diriku s'lalu dimanja

Kata mereka, diriku s'lalu ditimang

Bunda, ada dan tiada dirimu/ 'Kan selalu ada di dalam hatiku

Pikirku pun melayang / Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang / Tentang riwayatku

Kata mereka, diriku s'lalu dimanja

Kata mereka, diriku s'lalu ditimang

Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu / 'Kan selalu ada di dalam hatiku

ASKARA - Ada dua pujangga musik yang saya kagumi yaitu Ismail Marzuki dan Melly Goeslaw. Saya kurang beruntung dalam hal tidak sempat berjumpa Ismail Marzuki namun saya beruntung dalam hal sempat berjumpa Melly Goeslaw (gelar wicara saya dengan narasumber Melly Goeslaw dapat disimak di YouTube melalui link https://www.youtube.com/watch?v=7S7uZph0uog)

Dalam perbincangan dengan Melly Goeslaw saya banyak berlajar tentang daya yang disebut sebagai kreatifitas . Dan juga dari Melly Goeslaw saya makin yakin bahwa pendidikan musik akademis apalagi yang berorientasi pada kurikulum pada hakikatnya bukan membina namun malah merusak kreatifitas. Teori-teori musik akademis merupakan beban yang menghambat unsur kreatifitas justru paling utama yaitu ketulusan. Seperti Ismail Marzuki mampu menggubah mahakarya Indonesia Pusaka, maka Melly Goeslaw mampu menggubah Bunda karena kedua beliau tidak terbebani teori-teori musik siapapun maupun apapun. Ismail Marzuki dan Melly Goeslaw tidak menjadi Bach, Beethoven, Brahms, Britten ke dua tetapi justru berjaya sebagai Ismail Marzuki yang pertama dan Melly Goeslaw yang pertama.

Dari perbincangan saya langsung dengan sang penggubah lagu, saya juga disadarkan  tentang kenyataan bahwa lagu Bunda bukan terbatas lagu anak-anak namun lintas usia selama hayat masih dikandung badan. Lagu Bunda sudah melegenda pada masa penggubahnya masih hidup sebagai semacam lagu kebangsaan yang wajib dinyanyikan mereka yang pernah atau masih punya ibu pada setiap perayaan Hari Ibu di persada Indonesia tercinta ini.

Satu di antara jutaan peristiwa mengharukan terkait lagu Bunda adalah pada menjelang Hari Ibu, seorang penghuni lapas yang dihukum seumur hidup sempat memohon Melly Goeslaw datang ke lapas untuk menyanyikan lagu Bunda di hadapan sang penghuni lapas seumur hidup sebagai ungkapan rasa rindu dan  terima kasih kepada ibunda. Dan yang lebih mengharubirukan sanubari, Melly Goeslaw benar-benar datang ke lapas pada Hari Ibu untuk menyanyikan Bunda bagi sang penghuni lapas. Saya tidak hadir pada peristiwa dramatis itu namun saya yakin segenap penghuni lapas dan petugas lapas pasti tidak ada yang mampu menahan tetesan air mata mengalir di pipi masing-masing. Sebab mereka semua pasti pernah atau masih punya Ibu.

 Melly Goeslaw sendiri juga memberi tahu saya bahwa beliau menulis syair dahulu baru disusul melodi tanpa peduli harmoni. Ternyata sebelum menjadi penggubah lagu, Melly memang seorang penulis mulai dari surat-menyurat dengan ibunda beliau sampai kemudian menulis cerpen yang antologinya sudah dibukukan bahkan cerpen “Tentang Dia” diangkat ke layar lebar. Bekal energi utama Melly Goeslaw sehingga mampu mengolah lirik dan melodi seindah Bunda pada hakikatnya “hanya” satu dan satu-satunya yaitu ketulusan kasih-sayang.

 

Komentar