Saat Ini, Hari dan Tanggal yang Sama Ketika Yesus Disalib 1993 Tahun Lalu
ASKARA - Setiap tahun, umat Kristiani memperingati Jumat Agung sebagai momen paling hening dalam iman, hari ketika Yesus Kristus wafat di kayu salib. Namun tahun ini, 3 April menghadirkan nuansa refleksi yang berbeda. Bukan sekadar peringatan liturgis, tetapi juga membuka kembali perbincangan lama: mungkinkah inilah tanggal yang sama dengan hari penyaliban 2.000 tahun lalu?
Sejumlah sarjana Alkitab, sejarawan, hingga astronom memang lama mengarah pada satu titik yang sama: Jumat, 3 April tahun 33 Masehi sebagai kandidat terkuat hari penyaliban. Kesimpulan ini bukan spekulasi tunggal, melainkan hasil pertemuan berbagai disiplin ilmu, teks Injil, kalender Yahudi, data astronomi, hingga konteks sejarah pemerintahan Pontius Pilatus.
Injil mencatat bahwa Yesus wafat pada “hari persiapan”, yaitu Jumat, menjelang Paskah Yahudi. Kalender Yahudi menempatkan Paskah pada 14 atau 15 Nisan, sementara perhitungan astronomi menunjukkan bahwa pada awal dekade 30-an Masehi, hanya beberapa tanggal yang memungkinkan Jumat bertepatan dengan momen tersebut, dan 3 April 33 M menjadi salah satu yang paling presisi.
Lebih menarik lagi, sejumlah studi astronomi mencatat kemungkinan terjadinya gerhana bulan pada hari itu. Fenomena ini sering dikaitkan dengan gambaran Kitab Suci tentang “bulan menjadi darah” dan kegelapan yang menyelimuti bumi saat penyaliban. Apakah ini kebetulan kosmis atau penegasan simbolik? Perdebatan tetap terbuka.
Namun di balik semua upaya “memastikan tanggal”, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah iman membutuhkan kepastian historis untuk menjadi bermakna?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.
Bagi orang beriman, Jumat Agung bukan sekadar soal tanggal, melainkan tentang makna pengorbanan. Sekitar pukul tiga sore, ketika Yesus berseru “Sudah selesai”, itu bukan hanya akhir dari penderitaan fisik, tetapi juga pernyataan teologis tentang penebusan manusia. Sebuah titik balik dalam sejarah spiritual umat manusia.
Perdebatan antara tahun 30 M dan 33 M kemungkinan tidak akan pernah benar-benar selesai. Keduanya memiliki dasar yang kuat, dan masing-masing didukung oleh argumen ilmiah yang serius. Namun justru di situlah letak keindahannya: iman dan ilmu tidak selalu harus saling meniadakan, tetapi dapat berjalan berdampingan, saling memperkaya pemahaman manusia.
Jika 3 April memang mendekati kebenaran historis, maka peringatan Jumat Agung tahun ini menjadi lebih dari sekadar ritual, ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara langit dan bumi, antara sejarah dan iman.
Dan pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukanlah kapan itu terjadi, tetapi mengapa peristiwa itu tetap hidup hingga hari ini, di hati jutaan orang yang terus mengenang, merenungkan, dan menghidupi maknanya.

Komentar