Gayo Butuh Keberanian, Transformasi Kopi Jadi Solusi
ASKARA - Ketua Umum Dewan Koperasi Daerah Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, menegaskan perlunya keberanian untuk melakukan transformasi menyeluruh terhadap pengelolaan kopi Arabika Gayo sebagai solusi masa depan kawasan tersebut.
Menurutnya, selama ini tanah di Gayo terlalu lama diperlakukan sebatas lahan produksi, padahal kawasan itu menyimpan nilai sejarah, identitas, sekaligus potensi strategis nasional.
“Gayo bukan sekadar kebun. Ini kawasan yang menyimpan sejarah panjang, dari era perkebunan kolonial hingga jejak Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Namun hari ini, kita lebih sibuk mengenang daripada menghidupkan,” ujarnya, Rabu (1/4).
Ia menilai pendekatan pembangunan saat ini tidak cukup jika hanya bersifat tambal sulam. Gayo, kata dia, membutuhkan perubahan cara pandang secara menyeluruh melalui pembangunan sistem terintegrasi.
Konsep yang ditawarkan adalah pengembangan kawasan berbasis ekosistem, yang menggabungkan riset, produksi, pariwisata, hingga pelestarian sejarah dalam satu kesatuan.
“Petani harus menjadi pusat, bukan objek. Tanah harus dipulihkan dengan pendekatan biologis berbasis data. Kopi tidak hanya dipanen, tetapi dimaknai dari hulu hingga hilir sebagai sebuah pengalaman,” katanya.
Zam Zam juga menekankan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan anggaran, melainkan pada keberanian untuk merancang konsep besar yang utuh dan berkelanjutan.
Ia mengusulkan model Agropolitan Organik sebagai arah baru pembangunan pertanian di Indonesia, khususnya di Gayo. Model ini dinilai mampu mendorong terciptanya kawasan pertanian modern yang berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Sebagai perbandingan, ia menyinggung keberhasilan Coffee Cultural Landscape of Colombia yang mampu mengintegrasikan kopi sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi.
“Jika negara lain bisa, mengapa Gayo tidak? Pertanyaannya bukan bisa atau tidak, tetapi berani atau tidak,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa sejarah tidak akan mencatat siapa yang hanya merencanakan, melainkan siapa yang berani memulai.
“Gayo sudah terlalu lama menunggu,” pungkasnya.

Komentar