Stigma Sunyi Di Ruang Pengadilan
ASKARA - Di sebuah kota yang sibuk oleh prasangka dan berita singkat, seorang pengacara muda mendapati hidupnya berubah hanya karena satu perkara yang tak ingin disentuh banyak orang. Ia membela seseorang yang dituduh menjambret bukan demi sensasi melainkan karena keyakinan sunyi bahwa kebenaran sering berdiri sendirian di ruang sidang yang dingin dan penuh bisik.
Sejak hari pertama ia menerima berkas perkara itu teleponnya tak lagi sepi. Bukan klien baru yang datang melainkan pesan bernada heran sinis bahkan marah.
Tidak takut dicap pengacara jambret.
Pertanyaan itu muncul berulang ulang seolah sebuah vonis sosial yang dijatuhkan sebelum sidang dimulai. Ia membaca semuanya tanpa membalas. Baginya hukum bukan soal julukan melainkan keberanian berdiri di tempat yang tidak populer.
Kliennya seorang lelaki kurus dengan mata selalu gelisah. Polisi menuduhnya merampas tas seorang perempuan di persimpangan lampu merah. Barang bukti ada. Saksi ada. Berita acara lengkap. Perkara yang menurut banyak orang tidak perlu dibela terlalu jauh.
Mengapa Bapak mau membela saya tanya lelaki itu lirih saat pertama bertemu.
Pengacara muda itu tidak langsung menjawab. Ia menatap cukup lama mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis di berkas perkara.
Karena setiap orang berhak didengar katanya akhirnya.
Sidang berjalan cepat. Jaksa menuntut tegas. Media lokal menulis singkat tentang pengacara yang membela terduga penjambret dan menuai sorotan. Di kolom komentar orang orang jauh lebih tajam daripada tuntutan hukum.
Ia mulai dijauhi beberapa kolega. Undangan diskusi tak lagi datang. Seorang klien lama diam diam memutus kerja sama. Tekanan itu tidak keras tetapi terasa terus menerus seperti tetesan air di batu.
Malam hari ia duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu redup. Berkas menumpuk. Dalam sunyi muncul keraguan kecil yang berusaha ia tekan. Apakah ini keputusan yang salah.
Namun setiap kali pertanyaan itu datang ia teringat wajah ibunya perempuan sederhana yang selalu berkata bahwa membela yang lemah tidak pernah salah meski dunia menertawakan.
Sidang pembuktian tiba dan di sanalah arah perkara mulai berubah. Rekaman kamera lalu lintas yang sebelumnya dianggap kabur dianalisis ulang. Dalam potongan detik yang hampir terlewat terlihat seseorang lain berlari dari arah berbeda. Tubuhnya tidak sama dengan terdakwa yang duduk diam di kursi sidang.
Ruang sidang mendadak sunyi.
Jaksa meminta waktu tambahan. Hakim menunda persidangan. Kabar itu keluar dari gedung pengadilan lalu menyebar perlahan kemudian cepat. Orang orang yang semula mencibir mulai ragu. Sebagian memilih diam.
Pengacara muda itu tidak merasa menang. Ia justru semakin tenang seperti seseorang yang sejak awal telah bersiap menghadapi apa pun hasilnya.
Putusan dibacakan dua minggu kemudian. Terdakwa dinyatakan tidak terbukti bersalah. Tangis pecah di ruang sidang. Lelaki kurus itu berlutut menggenggam tangan pengacaranya dengan gemetar. Wartawan berebut mendekat.
Bagaimana perasaan Anda setelah membela terduga penjambret tanya seseorang.
Sejak awal saya tidak pernah membela penjambret jawabnya pelan.
Kalimat sederhana itu menggantung lebih lama daripada kilatan kamera.
Hari hari setelah putusan terasa ganjil. Mereka yang dulu menjauh datang kembali dengan ramah. Tawaran perkara berdatangan. Namanya mulai disebut sebagai pengacara berani. Ia menerima semuanya dengan sikap yang sama tenang dan seperlunya.
Suatu sore lelaki yang dulu menjadi kliennya datang kembali. Kali ini tanpa kegelisahan. Pakaiannya rapi. Tatapannya terang. Ia mengatakan bahwa dirinya telah mendapatkan pekerjaan baru dan ingin memulai hidup yang berbeda.
Sebelum pulang ia berhenti di pintu. Ia mengaku bahwa dulu memang bukan penjambret tetapi pernah hampir menjadi pelaku karena putus asa.
Pengacara muda itu tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan.
Mengapa Bapak tetap membela saya sekuat itu tanya lelaki tersebut.
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab singkat bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan kedua.
Lelaki itu pergi dengan mata berkaca kaca.
Malam turun perlahan. Kota kembali sibuk oleh kendaraan dan berita baru yang segera menggantikan berita lama.
Di ruang kerjanya pengacara muda itu membuka sebuah laci yang jarang disentuh. Di dalamnya tersimpan satu map tipis berisi salinan laporan polisi bertahun tahun lalu. Nama terlapor dalam berkas itu bukan klien tadi melainkan dirinya sendiri.
Kasus lama yang hampir menghancurkan hidupnya sebelum seorang pengacara tua memilih membelanya ketika semua orang menjauh.
Ia menutup map itu dengan sangat pelan. Di dinding tergantung foto kecil pengacara tua tersebut dengan senyum sederhana yang nyaris dilupakan orang.
Pengacara muda itu menatap lama lalu berbisik lirih bahwa dirinya hanya sedang meneruskan kebaikan yang pernah ia terima.
Lampu ruang kerja dipadamkan. Gelap memenuhi ruangan namun bukan gelap yang menakutkan melainkan gelap yang tenang seperti rahasia yang akhirnya menemukan tempat pulang.
Di kota yang gemar memberi nama terlalu cepat tak seorang pun tahu bahwa pengacara yang dulu dicap pembela penjambret sebenarnya sedang membayar utang hidupnya sendiri kepada seseorang yang lebih dahulu menyelamatkannya dari cap yang sama.

Komentar