Semangka Dipecah, Jalan Arwah Dibuka
ASKARA - Prosesi membanting semangka hingga pecah menjadi salah satu ritual unik dalam tradisi pemakaman Tionghoa. Tradisi ini biasanya dilakukan sesaat sebelum peti jenazah diberangkatkan menuju pemakaman atau krematorium.
Dalam praktiknya, semangka dibanting hingga pecah di depan iring-iringan jenazah. Ritual ini bukan sekadar simbolik, melainkan sarat makna filosofis yang berkaitan dengan perjalanan arwah menuju alam berikutnya.
Secara umum, prosesi tersebut melambangkan berakhirnya kehidupan seseorang di dunia. Selain itu, semangka juga dimaknai sebagai bekal yang dibawa arwah ke alam baka, sekaligus bentuk penghormatan terakhir dari keluarga yang ditinggalkan.
Tradisi ini juga diyakini sebagai cara untuk “melancarkan jalan” roh dalam perjalanannya menuju akhirat, agar tidak mengalami hambatan.
Berakar dari Legenda Dinasti Tang
Ritual ini dipercaya berakar dari legenda pada masa , khususnya kisah , seorang kaisar yang disebut pernah mengalami mati suri.
Dalam kisah tersebut, Li Shimin dikatakan sempat masuk ke alam kematian dan bertemu penjaga neraka bernama Juikak. Ia kemudian berjanji akan memberikan semangka sebagai bentuk terima kasih karena diizinkan kembali ke dunia.
Sejak saat itu, semangka menjadi simbol persembahan bagi penjaga alam kematian, yang kemudian diadopsi dalam ritual pemakaman sebagai bentuk penghormatan dan harapan akan perjalanan arwah yang lancar.
Simbol Bekal dan Permohonan Kelancaran
Dalam kepercayaan tradisional, semangka yang dipecahkan melambangkan buah yang akan dibawa arwah untuk diberikan kepada penjaga pintu alam baka.
Makna tersebut mencerminkan harapan keluarga agar arwah mendapatkan jalan yang mulus, diterima dengan baik, serta terhindar dari hambatan dalam perjalanan menuju kehidupan setelah kematian.
Meski bersifat simbolik, ritual ini masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Tionghoa sebagai bagian dari tradisi turun-temurun yang mengandung nilai penghormatan, spiritualitas, dan budaya.

Komentar