Kamis, 04 Juni 2026 | 12:00
OPINI

Benarkah Al-Aqsa Dalam Ancaman Dan Akan Dihancurkan ?

Benarkah Al-Aqsa Dalam Ancaman Dan Akan Dihancurkan ?
Ridwan Sank (dok.askara)

Oleh : Ridwan Sank, Tiktok @niteni_serat_diri

ASKARA - Hari ini, 9 Maret 2026, perang Iran-Israel telah memasuki hari ke-9. Dalam hitungan Niteni Serat Diri, angka 9 adalah "Pintu Kehancuran" , simbol akhir sebuah siklus dan awal yang baru. Di tengah gempuran rudal, sebuah isu yang jauh lebih sensitif kembali mencuat, yaitu  Masjid Al-Aqsa. Kiblat pertama umat Islam ini kini berada dalam situasi paling genting sejak 1967.  
Kita akan membaca peristiwa ini tidak hanya dengan mata kepala, tapi dengan mata batin. Mari kita bedah fakta dan numerik di baliknya.

Fakta 1: Penutupan Total Al-Aqsa

Sejak 28 Februari 2026, bertepatan dengan dimulainya Operasi 'Epic Fury', otoritas Israel menutup total Masjid Al-Aqsa untuk jamaah. Tanggal 28 Februari jika dihitung secara numerik: 28 + 2 + 2026 = 2056 → 2+0+5+6 = 13. Dalam ajaran Niteni, angka 13 adalah "Ratu Adil" , yaitu simbol perubahan besar yang sering diawali kekacauan. Ini pertama kalinya dalam sejarah modern Al-Aqsa ditutup di bulan Ramadan.

Sheikh Ikrima Sabri, imam senior Al-Aqsa, menyatakan: "Ini eksploitasi situasi perang untuk mengubah status quo yang telah bertahan 59 tahun." Angka 59 jika dijumlah: 5+9=14, neptu yang dalam Niteni disebut hari perubahan besar. Lebih dari 400 warga Yerusalem dicekal, dan hampir 5.000 pemukim menyerbu kompleks masjid. Angka 5.000 dalam numerik Niteni adalah simbol "Pancasona" , pusaran energi yang memicu konflik berkepanjangan.

Fakta 2: Viral Video Rabbi Yosef Mizrachi

Di tengah situasi memanas, video lawas Rabbi Yosef Mizrachi kembali viral. Dalam video itu, ia berkata: "Mungkin saja salah satu rudal akan mengenai masjid dan membuka jalan bagi pembangunan Kuil Ketiga. Itu bisa terjadi sebagai keajaiban." Ia bahkan menambahkan skenario provokatif: "Saya akan berpura-pura rudal itu dari Iran, lalu kita tembak jatuh. Semua negara Arab akan melawan Iran."

Video ini diangkat oleh komentator Amerika Tucker Carlson dan memicu gelombang kecaman. Dalam Niteni Serat Diri, fenomena ini disebut "Aji Mumpung" , yaitumemanfaatkan momentum kekacauan. Jika kita hitung nama Yosef Mizrachi dalam numerik Chaldean: Y=1, O=7, S=3, E=5, F=8 → total 24, direduksi 6; M=4, I=1, Z=7, R=2, A=1, C=3, H=5, I=1 → total 23, direduksi 5. Gabungan 6+5=11. Angka 11 adalah "Satria Wirang" , simbol orang yang membawa pesan kontroversial, bisa jadi pemicu atau korban.

Fakta 3: Terungkapnya Plot False Flag

Pada 6 Maret 2026, Kementerian Intelijen Iran mengumumkan telah membongkar plot "Operasi Geng Netanyahu". Tanggal 6 Maret: 6+3+2+0+2+6 = 19, reduksi 10 → angka "Pertentangan Langit". Rencananya: serangan drone ke Al-Aqsa menjelang Hari Quds (Jumat terakhir Ramadan), lalu menyalahkan Iran. Dalam numerik, Hari Quds tahun ini jatuh pada 27 Maret 2026 (27+3+2+0+2+6=40 → 4). Angka 4 adalah "Bumi Kapek" – tanah yang siap terbakar.

Pejabat intelijen Iran menyatakan: "Rezim Israel ingin mengubah negara-negara Arab melawan Iran." Namun, pihak Israel dan Chabad-Lubavitch membantah keras, menyebutnya fitnah. Dalam perspektif Niteni, ini adalah "Kala Gadhung", yaitu  situasi di mana kebenaran dan kebohongan sulit dibedakan, simbol raksasa bermata ribuan di mana fakta terpecah-pecah.

Fakta 4: Tiga Kebohongan Pejabat Israel

Di tengah pusaran ini, terungkap setidaknya tiga kebohongan pejabat Israel yang berusaha memutarbalikkan fakta:

Pertama, klaim bahwa "status quo Al-Aqsa tetap dipertahankan". Faktanya, penutupan total dan pelarangan jamaah adalah pelanggaran terang-terangan terhadap status quo yang berlaku sejak 1967. Dalam numerik, angka 1967 jika dijumlah: 1+9+6+7=23, reduksi 5 , yaitu angka perubahan yang kini mereka ingkari.

Kedua, pernyataan bahwa "tidak ada serbuan pemukim". Padahal, rekaman CCTV dan saksi mata mencatat hampir 5.000 pemukim masuk dengan pengawalan polisi, melakukan ritual Talmud di halaman masjid. Angka 5.000, seperti disebut sebelumnya, adalah "Pancasona" , simbol konflik berlapis.

Ketiga, tuduhan bahwa "Palestina-lah yang memprovokasi". Faktanya, warga Palestina hanya berusaha menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Dalam ajaran Niteni, tindakan membalikkan korban dan penyerang disebut "Karma Walak" ,  karma yang berbalik, di mana yang zalim akan tertimpa kebohongannya sendiri. Sebagaimana tersurat: "Wong kang goroh, bakal katutup goroh" ,yaitu Orang yang berbohong, akan tertutup oleh kebohongannya.

Mengapa Al-Aqsa?

Mengapa Al-Aqsa menjadi target strategis? Analis menyebut tiga kemungkinan, dan masing-masing punya akar numerik dalam Niteni:

1. Memecah belah dunia Islam. Angka perpecahan adalah 3 (Tri Mala). Dengan menyerang jantung umat, musuh ingin menciptakan kekacauan yang menguntungkan.
2. Mempercepat realisasi Kuil Ketiga. Kelompok ekstremis Yahudi meyakini Kuil Ketiga hanya bisa dibangun di atas reruntuhan Al-Aqsa. Dalam numerik, "Kuil Ketiga" dalam bahasa Ibrani memiliki nilai 666 ,  simbol kekuasaan duniawi yang berlebihan.
3. Menghancurkan simbol persatuan. Al-Aqsa adalah "Puser Bumi" , pusat energi spiritual. Jika pusat ini runtuh, perlawanan bisa kehilangan arah.

Dalam Serat Jangka Jayabaya tersurat: "Yen masjid suci ing tanah sabrang kobong, bakal ana perang gedhe sing ngobong jagad" (Jika masjid suci di tanah seberang terbakar, akan ada perang besar yang membakar dunia). Ini bukan sekadar ramalan, tapi peringatan. Al-Aqsa adalah jantung yang masih berdetak. Jangan biarkan provokasi memadamkannya.

Hari ini, 9 Maret 2026, angka 9 mengingatkan kita,  akhir dari satu siklus kegelapan bisa jadi awal kebangkitan. Tetaplah waspada, bersatu, dan jaga hati. Karena kebenaran sejati hanya bisa lahir dari ketajaman batin yang tidak terkotori kepentingan duniawi.

Komentar