Selasa, 21 Juli 2026 | 22:13
NEWS

Imbas Pernyataan Bahlil, Panic Buying BBM Lumpuhkan Kota Takengon

Imbas Pernyataan Bahlil, Panic Buying BBM Lumpuhkan Kota Takengon
Antrian kendaraan capai 1 Km lebih (Dok Zam)

ASKARA - Aksi panic buying bahan bakar minyak (BBM) melanda Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (4/3) malam. Antrean panjang kendaraan mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), memacetkan ruas-ruas jalan utama kota.

Ketua Badan Reaksi Cepat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Baret ICMI) Aceh Tengah, Hardy Fauzi, menyebut kepanikan dipicu pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menyebut stok BBM nasional cukup untuk 20 hari ke depan.

“Pernyataan itu justru memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Apalagi situasi global sedang memanas akibat konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Warga takut terjadi gangguan distribusi,” ujar Hardy, Rabu malam.

Pernyataan Bahlil sebelumnya disampaikan pada Senin, 2 Maret 2026, di Istana Presiden. Namun, sejak Rabu pagi (4/3), antrean panjang mulai terlihat di sejumlah SPBU di Takengon.

Hardy menggambarkan antrean kendaraan membentang dari SPBU Tansaril hingga Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia (BSI) Kota Takengon. Di SPBU kawasan “Satu Kilo”, antrean bahkan mencapai lebih dari satu kilometer sejak sore hingga malam hari.

“Kondisi ini memperburuk keadaan ekonomi masyarakat yang sebelumnya sudah tertekan pasca bencana. Aktivitas warga terganggu, distribusi barang ikut terhambat,” katanya.

Ia juga menyebut, warga dari daerah tetangga Aceh Tengah turut datang untuk mengisi BBM, memperpanjang antrean dan memperparah kemacetan.

Di tingkat eceran, harga Pertalite dilaporkan melonjak menjadi Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per liter. Banyak pengecer sempat berjualan bebas di dalam kota, namun pada malam hari sebagian besar tidak lagi terlihat beroperasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Aceh Tengah hari ini tercatat mencapai 8,60 persen. Angka tersebut dinilai menjadi gambaran nyata tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, terutama setelah bencana dan kini ditambah kepanikan distribusi energi.

Hardy berharap pemerintah daerah bersama aparat terkait segera memberikan penjelasan yang menenangkan masyarakat serta memastikan distribusi BBM tetap lancar agar situasi tidak semakin memburuk.

 

 

Komentar