Amerika Gunakan Suku Kurdi untuk Guncang Iran dari Dalam?
ASKARA - Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima dengan dinamika baru yang berpotensi memperluas medan pertempuran. Sejumlah laporan media internasional menyebutkan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah membuka komunikasi intensif dengan kelompok oposisi Kurdi guna membahas kemungkinan dukungan persenjataan untuk mengguncang stabilitas Teheran dari dalam.
Laporan tersebut menyebutkan pembicaraan melibatkan pejabat Amerika dan faksi oposisi Kurdi yang selama bertahun-tahun berseberangan dengan pemerintah Iran. Kelompok Kurdi diketahui aktif di wilayah perbatasan Irak–Iran dan kerap melancarkan serangan di Provinsi Kurdistan Iran serta kawasan barat lainnya.
Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi tekanan berlapis Washington dalam konflik yang kini berkembang menjadi konfrontasi regional. Meski demikian, hingga Rabu waktu setempat belum ada kejelasan apakah kesepakatan konkret telah tercapai atau masih sebatas penjajakan politik dan keamanan.
Sejarah mencatat, badan intelijen Amerika, Central Intelligence Agency (CIA), memiliki rekam jejak panjang bekerja sama dengan kelompok Kurdi di Irak pascainvasi 2003. Washington juga pernah mendukung, melatih, dan mempersenjatai pasukan Kurdi di Suriah dalam operasi melawan pemerintahan Bashar al-Assad.
Pengamat menilai, apabila skenario dukungan persenjataan benar-benar direalisasikan, maka Iran berpotensi menghadapi tekanan ganda: serangan eksternal sekaligus instabilitas domestik di wilayah minoritas Kurdi. Situasi ini dikhawatirkan memperlebar eskalasi dan memicu ketegangan baru di kawasan perbatasan Irak.
Sementara itu, pemerintah Iran belum memberikan respons resmi terkait laporan tersebut. Namun Teheran sebelumnya menegaskan akan menindak tegas setiap bentuk campur tangan asing yang dianggap mengancam kedaulatan negara.
Perkembangan ini menambah kompleksitas konflik yang tak lagi sekadar pertarungan militer terbuka, tetapi juga berpotensi berubah menjadi perang proksi dengan implikasi geopolitik jangka panjang di Timur Tengah.

Komentar