Misteri Tengah Malam di Nusa Dua, Didatangi Petugas Berwajah Dingin
ASKARA - Sebuah pengalaman tak biasa dialami Francisca Taolin beberapa tahun lalu saat menjalankan tugas kantor di Bali. Peristiwa yang terjadi di salah satu hotel besar kawasan Nusa Dua itu hingga kini masih membekas dalam ingatannya.
Kala itu, Francisca tiba di hotel sekitar pukul 22.30 WITA dan diantar petugas yang membawakan barang-barangnya. Ia mendapat kamar seorang diri. Hotel yang ditempatinya terbilang mewah, namun berkesan klasik dengan kamar luas dan dinding bercat putih.
Setelah masuk kamar, ia memutuskan untuk mandi. Namun tak lama berselang, bel pintu berbunyi berulang kali. Dengan tergesa mengenakan pakaian, ia membuka pintu dan mendapati seorang pria berseragam seperti petugas hotel berdiri di depan kamar.
Pria tersebut membawa pot kecil berisi tanaman hidup. Wajahnya, menurut Francisca, mirip dengan almarhum Him Damsyik, aktor senior Indonesia.
“Saya bertanya, ‘Selamat malam Pak, ada apa?’ Dia hanya menjawab, ‘Ini bunga.’ Saat saya tanya dari siapa, jawabannya selalu sama: ‘Untuk orang-orang khusus,’” kenangnya.
Jawaban itu diulang hingga tiga kali. Francisca mengaku tidak merasa takut saat itu, hanya heran. Namun ada hal yang membuatnya tak nyaman: ekspresi wajah pria tersebut terlihat dingin, matanya tak berkedip, dan lidahnya tampak bergerak-gerak aneh.
Ia akhirnya menerima pot tanaman itu dan meletakkannya di meja depan tempat tidur sebelum melanjutkan mandi dan beristirahat.
Keesokan paginya, ia terbangun dan terkejut karena jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, padahal ia harus sudah siap pukul 06.00. Dalam kepanikan, ia bersiap dan turun ke lobi. Namun suasana hotel masih sepi. Di restoran pun belum ada tamu sarapan.
Saat bertanya kepada petugas, ia justru diberi tahu bahwa restoran belum buka dan waktu masih pukul 05.20 WITA. Ia terkejut dan mempertanyakan apakah yang dialaminya hanya mimpi.
Sepanjang kegiatan hari itu, Francisca merasa tubuhnya lemas dan pikirannya tidak fokus. Ia bahkan meminta dipijat karena merasa tidak enak badan. Anehnya, ia sempat melupakan kejadian malam sebelumnya.
Ingatan itu baru muncul kembali saat rombongan hendak kembali ke Jakarta dan singgah makan siang. Ia pun menanyakan kepada peserta lain apakah mereka menerima tanaman serupa di kamar. Semua menjawab tidak. Mereka justru mendapatkan cokelat sebagai sambutan hotel.
Francisca juga sempat menanyakan kepada pemilik hotel yang dikenalnya, namun yang bersangkutan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia disarankan untuk berdoa.
Setibanya di Jakarta, selama dua hari ia mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk tentang suasana pantai dengan ombak besar, menyerupai suasana sekitar hotel tempatnya menginap.
Sejak kejadian itu, Francisca mengaku trauma jika harus bepergian dinas ke Bali seorang diri. Ia memilih menginap di hotel kecil yang dekat dengan resepsionis dan enggan kembali ke hotel tersebut.
“Sampai sekarang saya masih penasaran, sebenarnya siapa yang datang malam itu,” ujarnya.
Peristiwa tersebut mungkin telah berlalu beberapa tahun, namun pengalaman yang dirasakannya tetap jelas dalam ingatan, menjadi kisah pribadi yang tak mudah dilupakan.

Komentar