Selasa, 21 Juli 2026 | 13:22
NEWS

Silaturahmi KAHMI–ICMI Kota Bogor, Prof. Rokhmin Tekankan Soliditas Umat di Tengah Geopolitik Global

Silaturahmi KAHMI–ICMI Kota Bogor, Prof. Rokhmin Tekankan Soliditas Umat di Tengah Geopolitik Global
Silaturahmi KAHMI–ICMI Kota Bogor (dok.askara)

ASKARA – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) bersama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kota Bogor menggelar silaturahmi sekaligus buka puasa bersama di kediaman Anggota DPR RI Komisi IV, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, Ahad (1/03). Acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, dihadiri tokoh nasional, akademisi, serta jajaran pengurus KAHMI dan ICMI. Hadir dalam kesempatan itu Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i.

Dalam sambutannya, Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu menyampaikan refleksi mengenai kondisi umat Islam Indonesia di tengah dinamika global. Ia menyoroti hasil survei Kementerian Agama yang menyebut umat Islam Indonesia masih cenderung sekuler. Menurutnya, temuan tersebut patut dijadikan bahan evaluasi bersama.

Prof. Rokhmin menilai umat Islam Indonesia masih menghadapi tantangan serius, mulai dari ketertinggalan ekonomi hingga praktik korupsi yang merusak berbagai sektor. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah serta jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.  

“Kalau ingin menjadi bangsa yang makmur, maka kita harus menjalankan perintah Allah SWT dan meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW. Nilai kejujuran, amanah, kerja keras, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi utama,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor.

Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam memperkuat semangat kewirausahaan agar mampu menjadi “tangan di atas”, yakni pihak yang memberi manfaat dan kontribusi bagi sesama. Menurutnya, kemandirian ekonomi adalah salah satu kunci kebangkitan umat.

Umat Islam Optimistis dan Mandiri  

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menekankan pentingnya persatuan umat Islam di tengah dinamika global dan berbagai isu geopolitik internasional. Ia menyoroti masih adanya konflik dan ketegangan di sejumlah kawasan dunia Islam.  

“Di tengah bulan Ramadhan yang suci, kita melihat masih adanya konflik dan ketegangan global. Namun sejarah mencatat, justru di bulan penuh berkah inilah umat Islam sering menunjukkan kebangkitan dan persatuannya,” ujarnya.

Prpf. Rokhmin mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak boleh memecah belah umat. Soliditas dan ukhuwah, menurutnya, adalah kekuatan utama dalam menghadapi tantangan nasional maupun internasional.  

“Kita harus bersatu, saling menguatkan, dan tetap optimistis. Umat Islam Indonesia ke depan harus bisa lebih sejahtera dan berperan lebih besar dalam membangun peradaban,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin juga berbagi bahwa dirinya bersama sang istri telah konsisten menggelar buka puasa bersama sejak tahun 1995. Tahun ini menjadi pelaksanaan yang ke-31, sebuah tradisi keluarga yang terus dijaga untuk mempererat silaturahmi.  

Ramadhan, Persatuan, dan Moderasi

Dalam ceramahnya, Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, menekankan makna Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan latihan spiritual. Ia menjelaskan tiga fase pembinaan diri: sepuluh hari pertama sebagai momentum rahmat, sepuluh hari kedua sebagai maghfirah atau ampunan, dan sepuluh hari terakhir sebagai penguatan iman dari api neraka.  

“Nilai-nilai Ramadhan tidak boleh berhenti pada ritual semata. Ilmu dan jabatan akan sia-sia jika tidak memberi manfaat bagi umat dan bangsa,” tegasnya. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad), sebagai landasan pentingnya kontribusi nyata seorang Muslim bagi masyarakat.

Wamenag juga menyoroti kondisi dunia Islam yang masih dilanda perpecahan, khususnya di sejumlah negara Arab. Menurutnya, Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas dan moderasi Islam di tingkat global, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi demokrasi yang relatif stabil.

Komentar