Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara
ASKARA - Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu dini hari waktu setempat. Ia meninggal dunia pada usia 86 tahun.
Dalam pernyataan yang dibacakan melalui televisi pemerintah, disebutkan bahwa Khamenei gugur di kantornya saat sedang menjalankan tugas kenegaraan. Lokasi tersebut berada di kompleks Leadership House di Teheran.
Citra satelit yang diverifikasi sejumlah pihak sebelumnya menunjukkan kerusakan signifikan pada beberapa bagian kompleks tersebut. Sementara itu, Kantor Berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut kematian Khamenei di kantornya membantah klaim bahwa ia bersembunyi, dan menuding isu tersebut sebagai “perang psikologis musuh”.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh Revolusi Islam 1979 dan pendiri Republik Islam Iran. Ia dipilih oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama Syiah senior setelah sebelumnya menjabat sebagai presiden Iran.
Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, Khamenei memimpin sistem teokrasi yang kuat di dalam negeri dan mendorong poros perlawanan anti-Barat di kawasan Timur Tengah. Pemerintahannya kerap dikritik atas tindakan keras terhadap oposisi domestik dan pembatasan kebebasan sipil.
Serangan terbaru terjadi setelah kampanye pengeboman pada Juni 2025 oleh AS dan Israel yang menargetkan program pengayaan nuklir Iran, meski program tersebut dilaporkan tidak sepenuhnya hancur. Kondisi ekonomi Iran terus memburuk, memicu gelombang protes besar pada Januari berikutnya. Laporan menyebutkan puluhan ribu demonstran tewas dalam aksi penindakan, menjadikannya salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah modern Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan ketidakpuasannya terhadap lambannya pembahasan isu nuklir dan produksi rudal bersama diplomat Iran. Dalam pengumuman serangan terbaru, ia juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer berakhir.
Hingga kini, situasi di Teheran dan sejumlah wilayah lain dilaporkan masih tegang menyusul kabar wafatnya pemimpin tertinggi yang telah berkuasa selama 36 tahun tersebut.

Komentar