Senin, 20 Juli 2026 | 02:57
Parodi

Dua Ton Sabu, Satu ABK Jadi Tumbal Mafia?

Dua Ton Sabu, Satu ABK Jadi Tumbal Mafia?
Ilustrasi barang bukti narkoba 2 ton (Dok Askara)

ASKARA - Di negeri maritim yang katanya poros dunia, seekor "ikan teri" bernama Fandi Ramadhan mendadak disebut paus raksasa. Beratnya? Ya tidak sampai dua ton. Tapi anehnya, ia dituduh membawa hampir dua ton sabu, 1.995.130 gram, angka yang begitu presisi hingga terasa seperti hasil timbangan dapur, bukan gelombang samudera.

Fandi, 26 tahun, hanya seorang ABK. Anak Buah Kapal. Dalam struktur pelayaran, ia bukan nakhoda, bukan pemilik kapal, bukan pengendali rute internasional. Tapi dalam struktur dakwaan, ia tiba-tiba tampak seperti maestro logistik global.

Sementara nama-nama lain berseliweran bak daftar tamu konferensi internasional, Hasiholan Samosir, Leo Chandra Samosir, Richard Halomoan Tambunan, Teerapong Lekpradub, Weerapat Phongwan alias Mr Pong, bahkan ada sosok misterius Mr Tan alias Jacky Tan yang kini berstatus DPO, justru seorang ABK yang lebih dulu ditarik ke panggung utama, lengkap dengan sorotan hukuman mati.

Di ruang sidang, mungkin adagium lama hukum kembali berbisik lirih:
"Lebih baik melepaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah."

Tapi adagium memang sering kalah nyaring dibanding gema headline.
In dubio pro reo, jika ragu, putusan harus menguntungkan terdakwa.
Namun dalam praktik, keraguan kadang seperti kompas rusak di tengah badai.

Satirnya begini:
Jika dua ton sabu bisa "dipanggul" oleh satu ABK, maka barangkali kapal itu tak perlu mesin. Cukup Fandi saja sebagai tenaga pendorong. Bila jaringan lintas negara bisa dikendalikan dari geladak oleh buruh pelayaran, mungkin teori kejahatan terorganisir perlu ditulis ulang.

Kita tentu mendukung perang terhadap narkoba. Tapi perang tanpa akurasi sering kali melukai yang paling lemah lebih dulu. Dalam kisah klasik, pion memang yang pertama dikorbankan agar raja tetap aman.

Di perairan Batam, ombak tetap bergulung. Kapal tetap berlayar. Nama-nama besar mungkin masih bersembunyi di balik kabut hukum. Dan seorang ABK berdiri di dermaga takdirnya, menunggu apakah ia akan dicatat sebagai bandar kelas dunia, atau sekadar anak buah yang terseret arus.

Karena pada akhirnya, keadilan bukan soal seberapa keras vonis dijatuhkan.
Tapi seberapa yakin nurani bahwa yang dihukum memang benar pelakunya.

Dan di negeri ini, kadang yang paling berat bukan dua ton barang bukti, melainkan satu ton keraguan yang tak pernah benar-benar ditimbang.

 

 

Komentar