Kamis, 04 Juni 2026 | 06:59
COMMUNITY

Imlek di Kumetiran: Syukur, Tobat, dan Berbagi Takjil

Imlek di Kumetiran: Syukur, Tobat, dan Berbagi Takjil
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran berlangsung meriah sekaligus reflektif (Dok Bambang)

ASKARA – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran berlangsung meriah sekaligus reflektif, Minggu (22/2/2026) sore. Ratusan umat Katolik Tionghoa dan warga paroki mengikuti Misa Ekaristi Syukur yang tahun ini bertepatan dengan masa Prapaskah.

Mengangkat tema “Tahun Baru, Hati Baru: Bertobat dan Berbuah dalam Kasih”, perayaan dipimpin Pastor Vincentius Indra Sanjaya Pr bersama Pastor Albertus Herdaryono Pr dan Pastor Aloysius Dwi Prasetyo Pr. Dalam homilinya, Pastor Indra menekankan bahwa Imlek bukan hanya momentum syukur atas tahun yang baru, tetapi juga kesempatan memperbarui hati di tengah panggilan pertobatan Prapaskah.

Ia menyebut perpaduan Imlek dan Prapaskah sebagai bentuk kedewasaan iman dalam merangkul tradisi budaya tanpa kehilangan arah spiritual. “Syukur atas berkat dan rezeki tetap penting, namun pertobatan membuat berkat itu bermakna,” ujarnya di hadapan umat.

Ketua Panitia Imlek 2026, Albertus Budi Setiawan, menjelaskan bahwa Tahun Kuda Api dimaknai sebagai simbol kekuatan dan semangat. Kuda melambangkan keteguhan melangkah bersama Kristus, sementara Api diartikan sebagai kobaran semangat Roh Kudus untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Tak hanya menjadi perayaan internal umat, momen ini juga menghadirkan pesan toleransi. Panitia membagikan paket takjil kepada warga Muslim di sekitar gereja sebagai wujud persaudaraan lintas iman. Di dalam gereja, anak-anak menerima angpau dan bingkisan khas Imlek, sementara suasana kebersamaan terasa hangat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kapolsek Gedongtengen AKP Yulianto yang mengapresiasi perayaan sebagai gambaran nyata moderasi beragama di Yogyakarta. Ia menilai harmoni antara tradisi Tionghoa, liturgi Katolik, dan kepedulian sosial menjadi cerminan kerukunan yang terjaga.

Meski sempat diguyur hujan, perayaan berlanjut di halaman gereja dengan atraksi barongsai, liong, wushu, hingga pesta kembang api. Kemeriahan itu menutup perayaan Imlek di Kumetiran sebagai pesta budaya yang tetap berpijak pada nilai iman dan kebersamaan.

 

 

Komentar