Selasa, 21 Juli 2026 | 23:17
NEWS

Ramadhan Baru Dimulai, BMKG Bongkar Ancaman Hujan Ekstrem!

Ramadhan Baru Dimulai, BMKG Bongkar Ancaman Hujan Ekstrem!
Prospek Cuaca (Dok BMKG)

ASKARA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika/BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat hingga ekstrem pada awal Ramadhan 2026. Dalam periode 17–19 Februari 2026, BMKG mencatat curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Puncak curah hujan harian kategori ekstrem tercatat di Sumatra Barat sebesar 176,3 mm/hari, Aceh 130,9 mm/hari, Bengkulu 129,6 mm/hari, Bali 108,5 mm/hari, dan Kalimantan Barat 90,1 mm/hari. Peningkatan intensitas hujan ini dipicu dinamika atmosfer yang berkembang cepat.

BMKG menjelaskan, penguatan Monsun Asia membawa angin baratan yang cukup kuat sehingga mempercepat pembentukan awan konvektif, khususnya di wilayah barat dan selatan Indonesia. Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif di sejumlah wilayah menandakan meluasnya tutupan awan tebal disertai peningkatan aktivitas konveksi.

Gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau berada di bagian barat Indonesia turut berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi Utara. Kombinasi aktifnya Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua semakin memperkuat potensi hujan signifikan.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Dalam sepekan mendatang, BMKG memperkirakan fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal masih memengaruhi cuaca di Indonesia. Kondisi La Niña lemah yang terdeteksi melalui nilai SOI dan Niño3.4 berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di Indonesia bagian timur.

Aktivitas MJO diprediksi masih berada pada fase Indian Ocean dan berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di berbagai wilayah. Kombinasi MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator terpantau aktif di wilayah Lampung, Laut Jawa bagian barat dan tengah, Perairan Bengkulu, Sumatera Selatan, serta Samudra Hindia barat Bengkulu.

Monsun Asia juga diprakirakan tetap aktif dengan suplai massa udara dan uap air yang signifikan. Sirkulasi siklonik terpantau di Samudra Hindia barat daya Banten dan Kalimantan Barat. Dengan kelembapan udara tinggi serta labilitas lokal kuat, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah.

Prospek Cuaca 20–22 Februari 2026

Secara umum, hujan ringan hingga sedang masih mendominasi. Namun, peningkatan hujan sedang-lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

BMKG menetapkan status Siaga (hujan lebat–sangat lebat) untuk Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.

Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan.

Prospek Cuaca 23–26 Februari 2026

Pada periode ini, hujan ringan hingga sedang masih dominan, namun potensi hujan sedang-lebat tetap perlu diwaspadai di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Status Siaga diberlakukan untuk DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Papua Pegunungan. Sementara potensi angin kencang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, genangan, hingga pohon tumbang akibat hujan lebat dan angin kencang.

Kondisi cuaca yang dinamis ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan perjalanan darat, laut, dan udara, serta aktivitas luar ruang termasuk kegiatan ibadah Ramadhan.

Komentar