Kamis, 23 Juli 2026 | 08:26
NEWS

Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Turun ke Level II (Waspada)

Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Turun ke Level II (Waspada)
Peta bencana Gunung Lewotobi Laki-laki (Dok ESDM)

ASKARA - Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental terbaru, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada). Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan aktivitas vulkanik selama Januari hingga pertengahan Februari 2026.

Secara visual dalam sepekan terakhir, gunung tampak jelas hingga sesekali tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 50–200 meter dari puncak. Cuaca bervariasi dari cerah hingga hujan dengan suhu udara 21–32°C dan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Tercatat pula kejadian guguran, meski jarak dan arah luncurannya tidak teramati secara visual.

Data kegempaan periode 13–19 Februari 2026 mencatat 5 gempa guguran, 11 gempa hembusan, 114 tremor non-harmonik, 1 gempa tornillo, 90 gempa low frequency, 22 gempa vulkanik dalam, 7 gempa tektonik lokal, 28 gempa tektonik jauh, serta 3 getaran banjir atau lahar. Meski aktivitas kegempaan didominasi tremor non-harmonik dan low frequency yang fluktuatif, tidak teramati peningkatan gempa vulkanik dangkal maupun tanda-tanda inflasi deformasi yang mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan.

Secara deformasi, data GNSS hingga pertengahan Februari menunjukkan kondisi stabil hingga deflasi lemah tanpa adanya pengangkatan vertikal signifikan. Pola pergerakan horizontal lebih mencerminkan relaksasi tubuh gunung pasca-erupsi terakhir pada 18 Oktober 2025. Data tiltmeter di sejumlah stasiun pemantauan juga tidak memperlihatkan indikasi inflasi sistemik, menandakan tidak ada akumulasi tekanan magma baru di zona dangkal.

Meski demikian, masyarakat dan wisatawan diimbau tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi serta tetap tenang mengikuti arahan pemerintah daerah. Warga di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di puncak, seperti Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, dan Nurabelen, diminta mewaspadai potensi banjir lahar saat hujan lebat. Pemerintah daerah juga diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan di Desa Pululera dan PVMBG, serta memastikan masyarakat memperoleh informasi resmi guna menghindari kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

Komentar