Virus Nipah Mengintai Indonesia, Kenali Gejalanya
ASKARA - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan global. World Health Organization (WHO) bahkan menempatkannya sebagai salah satu penyakit prioritas karena berpotensi memicu wabah dengan tingkat kematian tinggi.
Ahli Kesehatan Masyarakat sekaligus pemerhati kesehatan, Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, mengingatkan bahwa virus ini bukan ancaman biasa.
“Tingkat fatalitas Virus Nipah dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen. Ini angka yang sangat tinggi dan tidak bisa dianggap remeh,” ujar Dr. Jusuf dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (21/2).
Virus Nipah merupakan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Penyakit ini bersifat zoonotik, yakni dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.
Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia. Sejak saat itu, kasus dilaporkan di Bangladesh, India, Filipina, serta sejumlah negara Asia lainnya.
Menurut Dr. Jusuf, meski Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.
“Indonesia berada di kawasan tropis dengan populasi kelelawar buah yang luas. Sejumlah penelitian mendeteksi keberadaan virus ini pada kelelawar di beberapa wilayah. Artinya, potensi risiko tetap ada,” jelasnya.
Gejala Awal Mirip Infeksi Biasa
Dr. Jusuf menjelaskan bahwa gejala awal Virus Nipah sering menyerupai infeksi umum, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
“Dalam praktik klinis, saya sering menyederhanakan dengan istilah ‘5L’: lesu, letih, lemah, lelah, dan lunglay. Tapi yang berbahaya adalah ketika gejala berkembang cepat menjadi gangguan saraf,” katanya.
Ia menambahkan, pasien dapat mengalami kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kejang. Komplikasi serius berupa radang otak (ensefalitis) dan gangguan pernapasan berat bisa muncul dalam waktu singkat.
“Pada fase inilah risiko kematian meningkat signifikan,” tegasnya.
Penularan dan Pencegahan
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar atau babi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, hingga penularan antar manusia melalui cairan tubuh.
“Karena belum ada vaksin maupun obat antivirus spesifik, maka pencegahan adalah benteng utama. Jangan konsumsi nira mentah, cuci buah sebelum dimakan, dan hindari kontak dengan hewan liar,” imbau Dr. Jusuf.
Ia juga menekankan pentingnya pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan untuk mencegah penularan lebih luas.
Waspada, Bukan Panik
Meski memiliki tingkat fatalitas tinggi, Dr. Jusuf mengingatkan masyarakat agar tetap tenang.
“Yang kita butuhkan adalah kewaspadaan berbasis informasi, bukan kepanikan. Dengan edukasi yang baik dan sistem kesehatan yang responsif, risiko wabah bisa diminimalkan,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala serius setelah kontak berisiko.
“Kewaspadaan dini adalah investasi kesehatan kita bersama,” pungkasnya.

Komentar