Stabilitas Nasional Bisa Terancam Jika Hoaks Politik dan Pemerintahan Merajalela
ASKARA-Pesatnya peredaran hoaks dapat mengancam stabilitas nasional. Pasalnya hoaks politik dan pemerintahan menyumbang 30 persen dari total hoaks yang beredar.
Menurutnya arus informasi yang masif di media sosial sering kali memicu polarisasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
"Saya mencatat terdapat sekitar 1.020 isu hoaks yang beredar sepanjang Januari hingga Agustus 2025, yang diperparah dengan penggunaan teknologi deepfake.Hoaks ini nyata memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Apalagi dengan algoritma media sosial saat ini, informasi palsu bisa menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan fakta di lapangan,” ujar Dave.
Politisi Partai Golkar ini menekankan pentingnya peningkatan literasi digital, mengingat sekitar 80 persen populasi Indonesia telah aktif menggunakan internet dengan durasi rata-rata minimal tiga jam per hari.
Namun, pihaknya mengakui masih adanya hambatan berupa kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat untuk melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayainya.
“Kita juga perlu melakukan diplomasi digital dan bekerja sama dengan lembaga internasional untuk saling mendukung dalam pengawasan serta menjaga kedaulatan ruang digital kita,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Dave memberikan catatan khusus bagi generasi muda di bawah usia 35 tahun yang mendominasi lebih dari 60 persen pengguna internet. Ia mengajak kaum muda untuk lebih bijak dan adaptif dalam menyaring informasi.
Pihaknya juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, DPR, dan media mainstream untuk terus mengedukasi masyarakat. “Era digital menuntut kita untuk selalu bijak dalam menjaga martabat ruang publik,” ujar Dave. (dry)

Komentar