Kamis, 04 Juni 2026 | 07:15
NEWS

John Gluba Gebze: Kebaikan Jadi Salib, tapi Tetap Saya Pikul

John Gluba Gebze: Kebaikan Jadi Salib, tapi Tetap Saya Pikul
John Gluba Gebze (Dok Askara)

ASKARA - Tokoh masyarakat Papua Selatan, John Gluba Gebze, menyampaikan refleksi batin tentang makna menolong sesama, sebuah nilai yang menurutnya kerap menjadi "beban sekaligus kenikmatan" dalam perjalanan hidup.

Dalam pernyataan yang ia sampaikan, John mengaku selama ini sering menjadi tumpuan harapan banyak orang. Ia menilai, kebaikan yang ia berikan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak ada habisnya, sehingga orang lain lupa bahwa dirinya pun memiliki keterbatasan.

"Masalahku selama ini adalah kebaikan. Bagaimana bisa terus berbuat kepada orang lain yang telah menjadikan diriku sebagai tumpuhan harapan mereka," ungkap John, Selasa (17/2).

Mengaku Punya Keterbatasan, Tapi Sulit Menolak

John menyebut dirinya bukan siapa-siapa, hanya orang biasa yang selama ini berusaha hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Namun, ia menegaskan bahwa di balik itu semua, ia juga memiliki banyak kekurangan.

"Bagi mereka kebaikan itu mungkin dianggap sebagai suatu kelimpahan, sehingga tak pernah tahu bahwa saya sesungguhnya juga orang yang punya keterbatasan," katanya.

Meski demikian, John mengaku sulit menolak ketika diminta membantu. Bahkan ia menyebut ada tiga hal yang membuat dirinya terus mengiyakan permintaan orang lain.

"Pertama, karena tidak menolak membantu. Kedua, mau pelit juga susah sekali. Ketiga, karena saya adalah penganut kasih,”" ujarnya.

Pegang Teguh Ajaran Iman

Dalam refleksinya, John menegaskan bahwa dorongan untuk menolong sesama bersumber dari keyakinan iman yang ia pegang selama hidup.

Ia mengutip ajaran yang menurutnya menjadi prinsip utama: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”

“Dan sumber ajaran itu datang dari Guru Sang Teladan: ‘Aku adalah kasih’,” tuturnya.

John mengakui, karena prinsip itulah ia kerap mengabaikan kebutuhan pribadinya demi membantu orang lain yang berharap.

“Meskipun kebutuhan saya pun harus saya abaikan demi mereka yang berharap bantuan dari pada ku,” katanya.

“Salib Kemanusiaan” yang Tidak Ringan, Tidak Juga Berat

John menggambarkan kehidupannya seperti memikul salib kemanusiaan. Ia menyebut, beban itu tidak selalu terasa ringan, tetapi juga tidak sepenuhnya berat.

Menurutnya, yang paling berat justru ketika suatu saat ia tidak mampu lagi membantu.

“Sampai saat ini tidak merasa ringan dan juga tidak merasa berat. Hal itu jadi berat jika saya suatu saat tidak bisa membantu,” ucapnya.

John menutup refleksinya dengan kalimat yang menggambarkan pandangannya tentang pengorbanan: bahwa salib yang ia pikul justru menjadi kenikmatan dalam menghadapi kerasnya dunia nyata.

“Salibku adalah kenikmatanku di tengah panorama beban dunia nyata yang sama-sama bisa kita tanggung,” pungkasnya.

 

Komentar