Kamis, 04 Juni 2026 | 09:31
NEWS

BeraniGundul 2026 Gaungkan Aksi Nyata Dukung Anak Kanker di Hari Kanker Anak Internasional

BeraniGundul 2026 Gaungkan Aksi Nyata Dukung Anak Kanker di Hari Kanker Anak Internasional
Menggunduli rambut sebagai bentuk dukungan moral dan semangat bagi anak penderita kanker (Dok YKAKI)

ASKARA - Memperingati Hari Kanker Anak Internasional (HKAI) yang jatuh setiap 15 Februari, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) menggelar event tahunan #BeraniGundul2026 di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026) pukul 09.00–18.00 WIB. Kegiatan ini mengusung tema global “Demonstrating Impact: From Challenge to Change” sebagai bagian dari kampanye dunia yang diinisiasi Childhood Cancer International (CCI).

HKAI atau International Childhood Cancer Day (ICCD) diperingati serentak di berbagai negara untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker anak dan tantangan yang dihadapi pasien, penyintas, serta keluarga mereka. Tahun 2026 menjadi tahun terakhir kampanye tiga tahunan ICCD bertema “Equal Access to Care for All Children with Cancer”, yang menekankan pentingnya kesetaraan akses pengobatan di seluruh dunia.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun sekitar 400.000 anak dan remaja di bawah usia 20 tahun di dunia terdiagnosis kanker, atau setara satu anak setiap tiga menit. Di negara berpenghasilan tinggi, angka kesembuhan mencapai 80 persen, sedangkan di negara berpenghasilan menengah ke bawah baru sekitar 20 persen. 
WHO menargetkan rata-rata kesembuhan global mencapai 60 persen pada 2030.

Di Indonesia, berdasarkan keterangan dr. Eddy Supriadi dari UKK Hematologi Onkologi Anak IDAI, dari sekitar 80 juta anak usia 0–18 tahun, terdapat 11.000–12.000 kasus kanker anak baru setiap tahunnya. Data registrasi kanker juga menunjukkan tingginya angka kasus pada kelompok usia 0–5 tahun dan 5–14 tahun.

Sebagai yayasan yang hampir 20 tahun mendampingi anak penderita kanker dari keluarga pra-sejahtera, YKAKI memaknai peringatan HKAI tidak hanya sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moral, tetapi juga momentum membangun kesadaran publik serta penggalangan dana berkelanjutan.

Di sela-sela kegiatan, Tri Adiyaksa, relawan YKAKI yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat, menjelaskan bahwa kegiatan #BeraniGundul merupakan agenda tahunan penggalangan dana sekaligus kampanye empati bagi anak-anak penderita kanker.

“Kami menyediakan rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker dari keluarga ekonomi lemah. Pengobatan mereka memang ditanggung BPJS dan dirujuk ke rumah sakit besar seperti RSCM, tetapi persoalan akomodasi selama menjalani kemoterapi yang bisa berlangsung bertahun-tahun sering kali menjadi beban berat,” ujarnya kepada awak media.

Tri menuturkan, sebelum adanya rumah singgah, banyak keluarga pasien yang terpaksa tinggal di selasar rumah sakit karena tidak memiliki biaya tempat tinggal. Kondisi tersebut dinilai tidak manusiawi, terutama bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan kanker.

Melalui program “RUMAH KITA”, YKAKI menyediakan tempat tinggal sementara tanpa batas waktu bagi pasien dan satu orang pendamping, baik ibu, ayah, maupun keluarga terdekat. Saat ini rumah singgah tersedia di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, dan Makassar.

“Pengobatan kanker bisa berlangsung empat sampai tujuh tahun. Kalau anak-anak ini tidak sekolah, mereka akan tertinggal. Karena itu kami juga menyediakan program pendidikan gratis ‘SEKOLAH-KU’, bekerja sama dengan sekolah asal dan instansi terkait agar mereka tetap bisa lulus tepat waktu,” jelasnya.

Selain fasilitas tempat tinggal dan pendidikan, YKAKI juga membantu transportasi pasien menuju rumah sakit rujukan seperti RSCM, Dharmais, maupun Fatmawati. Di rumah singgah, setiap keluarga hanya dikenakan kontribusi Rp5.000 per hari sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

“Kami ingin membangun suasana hangat dan penuh kebersamaan. Orangtua dan anak-anak saling membantu, membersihkan, memasak, dan menjaga keamanan bersama. Yang terpenting adalah menciptakan suasana gembira agar anak tidak merasa takut atau trauma,” tambahnya.

Ia juga menceritakan pengalaman seorang anak dari keluarga mampu yang awalnya tinggal di hotel selama pengobatan. Namun karena merasa kesepian, sang anak memilih pindah ke rumah singgah YKAKI agar bisa berbaur dengan teman-teman senasib.

“Di situ kami melihat bahwa kebahagiaan dan dukungan emosional sangat penting dalam proses penyembuhan,” katanya.

Hingga Desember 2025, YKAKI telah membantu 3.967 anak dan 5.692 orangtua melalui fasilitas rumah singgah. Kapasitas rumah singgah di Jakarta sendiri mencapai lebih dari 40 tempat tidur dengan dua lantai bangunan. Jumlah pasien bersifat fluktuatif, rata-rata sekitar 19–20 anak, belum termasuk pendamping.

YKAKI juga telah menyalurkan bantuan obat, tindakan medis non-JKN/BPJS, dan transportasi dengan total dana Rp2,3 miliar. Program edukasi dan sosialisasi kanker anak yang dijalankan sejak 2007 telah menjangkau lebih dari 188.000 audiens.

Kegiatan #BeraniGundul dipilih sebagai simbol empati terhadap anak-anak yang mengalami kerontokan rambut akibat kemoterapi.

“Kenapa namanya Berani Gundul? Karena kami ingin menunjukkan bahwa kami berdiri di samping mereka. Saat mereka kehilangan rambut akibat kemoterapi, kami pun siap menggunduli rambut sebagai bentuk dukungan moral dan semangat,” tegas Tri.

Event ini digelar serentak di delapan kota cabang dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, lomba anak, hiburan, serta partisipasi sejumlah artis dan komunitas.

Tri juga mengajak masyarakat untuk menyebarkan informasi ini kepada keluarga pasien kanker anak yang membutuhkan tempat tinggal selama berobat di Jakarta maupun kota lainnya.

“Jika ada anak penderita kanker dari keluarga kurang mampu yang dirujuk ke Jakarta dan kesulitan tempat tinggal, silakan hubungi Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. Kami siap membantu,” pungkasnya.

Melalui #BeraniGundul2026, YKAKI berharap semakin banyak pihak terlibat dalam perjuangan bersama mewujudkan akses pengobatan yang setara dan penuh harapan bagi seluruh anak Indonesia yang berjuang melawan kanker.

 

 

Komentar