Mistikus Benediktin Isabella Tomasi, Kisah Doa yang Berhadapan dengan Kegelapan
ASKARA - Nama Isabella Tomasi mungkin tidak setenar tokoh-tokoh besar dalam sejarah Eropa, namun dalam tradisi rohani Katolik, ia dikenal sebagai salah satu biarawati Benediktin yang meninggalkan jejak mistik yang kuat.
Isabella lahir pada 29 Mei 1645 di Agrigento, Italia. Pada usia muda, ia memilih hidup membiara dan bergabung dengan Ordo Benediktin pada 7 Oktober 1660. Sejak saat itu ia memakai nama religius Suster Maria Crocifissa della Concezione.
Dalam kehidupan biara yang sunyi, Tomasi dikenal sebagai sosok yang tekun berdoa, hidup disiplin, dan menunjukkan pengabdian rohani yang kuat. Ia wafat pada 16 Oktober 1699. Dua tahun setelah kematiannya, proses pengakuan Gereja terhadap hidupnya dimulai. Pada 1787, Paus Pius VI mengakui kebajikan heroiknya dan memberinya gelar Venerabilis, tahap penting dalam proses menuju beatifikasi.
Catatan Mistis yang Mengundang Banyak Tafsir
Yang membuat Maria Crocifissa dikenang hingga kini bukan hanya karena kesalehannya, tetapi juga karena pengalaman mistiknya yang dianggap tidak biasa. Dalam sejumlah catatan rohani, ia menuliskan pergulatan batin yang keras, termasuk pengalaman yang ia gambarkan sebagai “konfrontasi” dengan godaan iblis.
Dalam salah satu teks yang dikaitkan dengan pengalaman itu, muncul kalimat provokatif:
"Akulah yang akan menjadi Yesus bagimu… aku akan menjadi Tuhanmu…"
Teks tersebut dipahami sebagai gambaran tentang godaan spiritual yang halus: bukan godaan yang terang-terangan jahat, melainkan godaan yang menyamar sebagai “kebenaran”, bahkan memakai bahasa ilahi untuk merebut hati manusia.
Tomasi sendiri menulis bahwa ia menolak godaan itu, dan justru semakin menguat dalam doa, sakramen, serta ketaatan rohani.
Diterjemahkan Kembali pada 2017
Menariknya, sebagian tulisan mistik yang dikaitkan dengan Maria Crocifissa baru berhasil dibaca ulang secara luas pada tahun 2017. Tim peneliti dari Catania, Italia, disebut menggunakan metode dekripsi untuk menguraikan tulisan yang sebelumnya sulit dipahami.
Peristiwa ini kembali memunculkan perhatian publik terhadap warisan rohaninya, sekaligus memancing diskusi: apakah tulisan itu murni fenomena mistik, simbol psikologis, atau bagian dari tradisi spiritual abad ke-17 yang sarat metafora?
Dunia di Bawah Pengaruh, Bukan Akhir Harapan
Dalam tradisi Kristen, pergulatan rohani semacam ini sering dikaitkan dengan ayat Kitab Suci, salah satunya:
"Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat." (1 Yohanes 5:19)
Namun penafsiran arus utama menekankan bahwa ayat itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan umat agar waspada secara moral, sekaligus percaya bahwa kemenangan Kristus atas kejahatan adalah fondasi iman.
Warisan yang Masih Relevan
Kisah Isabella Tomasi tetap relevan karena menggambarkan sesuatu yang sangat manusiawi: batin manusia bisa rapuh, bisa digoda, bisa goyah, bahkan dalam hidup religius yang ketat.
Namun dalam catatan hidupnya, Maria Crocifissa menunjukkan bahwa jalan keluar dari kegelapan bukan sensasi, melainkan hal-hal yang sederhana namun berat: doa, disiplin, dan kesetiaan.
Ia tidak dikenang sebagai sosok yang “menang karena kuat”, melainkan sebagai pribadi yang bertahan karena ia terus kembali kepada sumber kekuatannya.

Komentar