Isra Mi'raj: Perjalanan Singkat yang Melampaui Ruang dan Waktu
Oleh: Irwan Reksohardjo
ASKARA - Perjalanan itu berlangsung singkat, namun maknanya melampaui ukuran waktu manusia. Dalam rentang malam, sekitar pukul 20.00 hingga menjelang subuh, Rasulullah SAW menempuh perjalanan yang oleh akal biasa nyaris mustahil: dari Makkah, ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Total waktu yang disebut dalam banyak riwayat hanya satu malam. Sekitar delapan jam pulang-pergi.
Isra Mi'raj bukan sekadar kisah perjalanan. Ia adalah peristiwa pertemuan antara iman, misteri, dan keterbatasan nalar manusia.
Jejak Para Nabi di Sepanjang Isra
Perjalanan Isra dimulai dengan lintasan darat yang sarat makna sejarah kenabian. Rasulullah SAW singgah di titik-titik penting yang menjadi saksi perjalanan para rasul sebelumnya.
Madinah, yang kelak menjadi kota hijrah dan pusat peradaban Islam, menjadi penanda awal. Lalu Madyan, tempat Nabi Musa AS pernah berlindung saat dikejar pasukan Fir'aun. Bukit Thur Sina, lokasi Nabi Musa menerima wahyu dan berbicara langsung dengan Allah SWT. Hingga Baitul Lahm, tempat kelahiran Nabi Isa AS.
Di setiap persinggahan, Rasulullah SAW menunaikan salat dua rakaat. Seolah perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menyambung risalah para nabi dalam satu garis sejarah ilahiah.
Di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi, sebuah simbol peneguhan posisi kenabian terakhir.
Di sana pula, Malaikat Jibril menawarkan dua minuman: susu dan khamar. Rasulullah SAW memilih susu. Pilihan yang kemudian dimaknai sebagai fitrah, jalan lurus yang sederhana, jernih, dan menyehatkan umatnya.
Mi'raj: Mendaki Langit, Menembus Makna
Dari Masjidil Aqsa, perjalanan berlanjut ke langit, Mi'raj. Setiap lapisan langit bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang perjumpaan dan pelajaran.
Di langit pertama, Rasulullah SAW bertemu Nabi Adam AS.
Langit kedua, Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
Langit ketiga, Nabi Yusuf AS.
Langit keempat, Nabi Idris AS.
Langit kelima, Nabi Harun AS.
Langit keenam, Nabi Musa AS.
Langit ketujuh, Nabi Ibrahim AS.
Setiap pertemuan bukan kebetulan, melainkan simbol perjalanan spiritual, kebijaksanaan, kepemimpinan, dan pengabdian.
Dari sinilah Rasulullah SAW menerima perintah salat, awalnya lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima, setelah dialog berulang dengan Nabi Musa AS. Sebuah pelajaran tentang rahmat, dialog, dan kasih sayang Tuhan kepada umat manusia.
Ketika Sains Mencoba Membaca Mukjizat
Isra Mi'raj adalah mukjizat. Dalam akidah Islam, ia diterima dengan iman. Namun manusia modern, yang hidup dalam semesta sains, tak henti mencoba memahami peristiwa ini melalui analogi ilmu pengetahuan.
Sebagian mencoba membaca Mi'raj dengan pendekatan fisika teoretis: relativitas, pelengkungan ruang-waktu, hingga teori lubang hitam. Dalam relativitas Einstein, ruang dan waktu bukanlah entitas mutlak. Kecepatan, gravitasi, dan posisi pengamat dapat membuat waktu melambat, jarak memendek, bahkan simultanitas runtuh.
Dalam fisika kuantum, realitas tak selalu hadir sebagai kepastian. Partikel dapat berada dalam banyak keadaan sekaligus, waktu dan posisi menjadi probabilistik. Dalam bahasa kebudayaan Nusantara, konsep ini kerap disejajarkan dengan istilah "rogoh sukmo" kesadaran yang melampaui tubuh fisik.
Upaya-upaya ini bukan untuk "membuktikan" Isra Mi'raj secara saintifik, melainkan untuk menunjukkan satu hal: alam semesta jauh lebih luas daripada batas nalar manusia.
Buraq dan Pendampingan Ilahiah
Riwayat menyebut Rasulullah SAW menunggang Buraq, makhluk yang digambarkan mampu melaju sejauh pandangan mata. Ia tidak berjalan sendiri. Malaikat Jibril mendampingi hingga batas tertentu.
Di sinilah pesan penting itu hadir: perjalanan ini bukan sekadar soal kecepatan, teknologi, atau energi, tetapi tentang izin dan kehendak Tuhan.
Bahkan Jibril pun berhenti pada batasnya. Ada wilayah yang hanya bisa dilalui Rasulullah SAW. Bukan karena kemampuan fisik, melainkan karena mandat kenabian.
*Iman, Bukan Sensasi*
Di tengah maraknya klaim supranatural, paranormal, dan perjalanan "lintas dimensi" Isra Mi'raj justru memberi batas tegas. Perjalanan keluar tatanan ruang manusia bukan perkara ilmu batin, jin, atau ritual duniawi.
Isra Mi'raj adalah peristiwa ilahiah, bukan keterampilan yang bisa direplikasi. Ia terjadi karena kehendak Tuhan, dengan sarana yang Tuhan kehendaki.
Penutup: Ketika Akal Bersujud
Isra Mi'raj pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: akal manusia boleh bertanya, boleh menafsir, boleh mencoba memahami. Tetapi ada titik di mana akal harus bersujud.
Mukjizat tidak hadir untuk ditaklukkan oleh logika, melainkan untuk mengingatkan bahwa di atas segala hukum alam, ada kehendak Sang Pencipta alam itu sendiri.
Dan mungkin, di sanalah letak keindahannya.

Komentar