Elpala: Janji Remaja yang Bertahan Empat Dekade
Oleh: Eka Bama Putra
ASKARA - Empat puluh tahun lalu, tepat hari ini.
28 Januari 1986.
Waktu masih berjalan pelan, belum sesibuk sekarang.
Langit rasanya lebih dekat.
Tanah masih sering disentuh kaki tanpa alas ambisi.
Di sebuah titik usia yang rapuh sekaligus berani, lima anak SMA berusia tujuh belas tahunan berdiri sejajar.
Bukan di podium.
Bukan di bawah sorotan.
Tapi di hadapan satu hal yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri: alam.
Hari itu bukan hari bersejarah menurut kalender nasional.
Tak ada upacara.
Tak ada kamera.
Tak ada yang menepuk pundak sambil berkata, “Ini akan jadi besar.”
Tapi justru di situlah keajaibannya.
Dengan seragam sekolah yang masih berbau kapur tulis, dengan ransel yang isinya lebih banyak mimpi daripada logistik, mereka sepakat mendirikan sebuah perkumpulan pencinta alam.
Namanya sederhana.
Pendek.
Tapi mengandung napas panjang: Elpala.
Elpala lahir bukan dari konsep yang rumit.
Ia lahir dari kegelisahan remaja.
Dari hasrat untuk keluar kelas, melampaui tembok sekolah, menyapa gunung, hutan, sungai, dan malam yang sunyinya jujur.
Di usia tujuh belas, mereka belum tahu ke mana hidup akan membawa.
Belum paham betul tentang karier, keluarga, atau arah masa depan.
Tapi satu hal sudah jelas sejak awal: alam bukan sesuatu untuk ditaklukkan, melainkan untuk dihormati.
Elpala bukan sekadar perkumpulan.
Ia adalah janji diam-diam.
Janji untuk belajar rendah hati di hadapan alam.
Janji untuk setia pada kawan saat hujan turun tanpa kompromi.
Janji untuk pulang dengan cerita, bukan kesombongan.
Empat puluh tahun berlalu.
Waktu menggerus rambut, menambah garis di wajah, dan memisahkan langkah ke arah hidup masing-masing.
Tapi ada satu garis yang tak pernah putus: ingatan tentang hari itu.
Tentang lima remaja yang percaya bahwa persahabatan dan alam layak diperjuangkan bersama.
Elpala mungkin tidak tercatat di buku sejarah negara.
Tapi ia hidup di ingatan, di jejak-jejak langkah yang pernah menapak tanah basah, di tawa yang pecah di tengah gelap, di diam yang penuh makna saat api unggun menyala.
Empat puluh tahun lalu, Elpala didirikan.
Dan hari ini, yang dirayakan bukan sekadar usia.
Yang dirayakan adalah keberanian muda untuk memilih jalan yang tidak selalu mudah, namun selalu jujur.
Karena pada akhirnya, alam mengingat mereka yang datang dengan niat baik.
Dan persahabatan sejati selalu tahu cara bertahan dari waktu.
Selamat ulang tahun ke-40, Elpala.
Kalian lahir dari remaja, dan tumbuh menjadi cerita.
Alfatihah untuk sahabat kami, Benny Pranoto E 002 P

Komentar