Selasa, 21 Juli 2026 | 02:15
NEWS

Dari Gunung Padang ke Laut Selatan: Kisah Sunyi Nyi Roro Kidul

Dari Gunung Padang ke Laut Selatan: Kisah Sunyi Nyi Roro Kidul
Ilustrasi Nyi Roro Kidul dan fenomena bola plasma hijau (Dok Sutejo)

ASKARA - Gunung Padang kembali menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena statusnya sebagai situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga akibat rangkaian fenomena mistis yang terus berulang. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah penampakan bola plasma hijau yang kerap terlihat melayang di kawasan punden berundak, terutama pada malam hari dan waktu-waktu yang dianggap sakral.

Dalam kepercayaan lisan masyarakat setempat, Nyi Roro Kidul diyakini sebelum menjadi Ratu Pantai Selatan merupakan abdi kinasih Prabu Gailang, tokoh legendaris yang dipercaya memiliki keterikatan spiritual kuat dengan Gunung Padang. Hingga kini, sejumlah peziarah meyakini sang ratu masih sering “hadir” di kawasan tersebut, ditandai oleh perubahan suasana, hawa dingin mendadak, dan munculnya cahaya hijau misterius.

Fenomena bola cahaya hijau itu dilaporkan berbentuk bulat, bergerak perlahan tanpa suara, lalu menghilang begitu saja. Warna hijau sendiri dalam kosmologi Jawa kerap dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul, simbol keseimbangan alam dan kekuatan adikodrati.

Namun, di balik narasi spiritual tersebut, muncul pula penjelasan ilmiah yang mencoba membaca fenomena ini dari sudut pandang fisika alam.

Pengamat metafisika sekaligus peneliti fenomena energi bumi, Sutejo Setyo, menjelaskan bahwa bola plasma hijau di Gunung Padang dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara geologi, atmosfer, dan kelistrikan alami bumi.

“Gunung Padang berada pada zona geologi aktif yang dipengaruhi sistem megathrust. Tekanan tektonik yang sangat besar dapat memicu efek piezoelektrik masif, yakni pelepasan muatan listrik statis dari batuan kristalin ke permukaan,” ujar Sutejo dalam unggahannya di media sosial, Kamis (22/1).

Menurutnya, muatan listrik tersebut kemudian membentuk bola plasma ketika berinteraksi dengan udara lembap di sekitar situs. Warna hijau muncul akibat proses ionisasi oksigen dan mineral magnesium yang berasal dari aerosol laut selatan Jawa.

“Atom-atom yang terionisasi itu memancarkan foton pada panjang gelombang hijau. Energi elektromagnetik tersebut bisa terperangkap oleh kelembapan ekstrem, kabut tebal, dan awan rendah, sehingga cahaya tampak stabil dan melayang,” jelasnya.

Sutejo menambahkan, fenomena ini serupa dengan laporan earth lights atau cahaya gempa yang pernah tercatat di berbagai belahan dunia, namun di Gunung Padang memiliki karakter unik karena kombinasi geologi purba, posisi topografi, dan kondisi atmosfernya.

Meski memiliki penjelasan ilmiah, Sutejo menegaskan bahwa pendekatan sains tidak serta-merta meniadakan dimensi spiritual. “Dalam banyak kebudayaan, fenomena alam ekstrem sering diterjemahkan sebagai simbol atau kehadiran metafisik. Di situlah sains dan kepercayaan bertemu,” katanya.

Bagi masyarakat adat dan peziarah, Gunung Padang tetaplah ruang sakral, tempat sejarah, energi bumi, dan spiritualitas Nusantara saling berkelindan. Di antara batu-batu purba dan kabut pegunungan, misteri Gunung Padang seolah terus menjaga rahasianya, menunggu siapa yang benar-benar siap memahami.

 

 

Komentar