Rabu, 22 Juli 2026 | 04:15
NEWS

Resensi Buku: Menguak Perlawanan Kerajaan Mori Melawan Agresi Belanda

Resensi Buku: Menguak Perlawanan Kerajaan Mori Melawan Agresi Belanda
Raja Mori dan sisa peninggalan kerajaan (Dok Askara)

ASKARA - Kisah perlawanan kerajaan-kerajaan lokal Nusantara kembali mendapat sorotan melalui buku Kerajaan Mori: Sejarah dari Sulawesi Tengah karya sejarawan Edward L. Poelinggomang. Buku ini mengangkat sejarah panjang Kerajaan Mori, salah satu kerajaan penting di pesisir timur Sulawesi Tengah, yang dikenal gigih melawan agresi kolonial Belanda hingga titik darah penghabisan.

Resensi buku ini ditulis oleh Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre, yang menempatkan sejarah Mori bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bagian penting dari ingatan kolektif bangsa. Buku setebal 280 halaman lebih lampiran ini diterbitkan Komunitas Bambu pada 2008 dan menjadi rujukan penting sejarah lokal Sulawesi.

Dalam resensinya, Yudhie Haryono mengawali kisah dari pertemuan personalnya dengan Murdan Uun Marunduh, seorang pensiunan yang berasal dari Suku Mori, Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Dari perbincangan santai di sebuah kafe di Jakarta, mengalir kisah tentang raja dan pejuang Mori yang gugur melawan Belanda di Benteng Wulanderi pada 17 Agustus 1907.

Tokoh sentral perlawanan tersebut adalah Mokole Marunduh Datu Ri Tana, atau dikenal pula sebagai Mokole Wawa Inia, Raja Mori ke-11. Ia tercatat sebagai salah satu raja lokal yang memilih melawan kolonialisme Belanda hingga akhir hayatnya—sebuah kisah yang jarang mendapat tempat dalam narasi sejarah nasional.

Suku Mori sendiri merupakan masyarakat Kerajaan Mori yang wilayahnya berada di sekitar Teluk Tomori atau Teluk Tolo, kawasan strategis yang diapit jazirah tenggara dan timur laut Pulau Sulawesi. Kerajaan Mori berkembang sejak sekitar abad ke-16 dan memiliki kekayaan budaya yang kuat, mulai dari bahasa daerah dengan berbagai dialek seperti Malio’a, Tiu, dan Molongkuni, hingga subsuku yang beragam.

Selain itu, masyarakat Mori juga dikenal memiliki tradisi adat yang kaya dan inklusif, seperti busana adat kebesaran Lambu, prosesi pernikahan Tole’a, serta makanan khas Winalu. Keberagaman ini menunjukkan Kerajaan Mori sebagai entitas sosial yang pluralis dan berakar kuat pada nilai-nilai budaya lokal.

Buku karya Edward L. Poelinggomang ini menelusuri perjalanan Kerajaan Mori sejak masa awal, dinamika politik dan sosialnya, hingga proses integrasinya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penulis dikenal sebagai sejarawan yang konsisten mengkaji sejarah lokal Sulawesi dan kawasan Indonesia Timur.

Menurut Yudhie Haryono, penulisan sejarah seperti ini merupakan kerja kebudayaan yang penting. “Menulis sejarah berarti mengurai masa lalu untuk membentuk masa depan, menyerap yang baik, dan meninggalkan yang buruk,” tulisnya.

Resensi ini juga mencatat bahwa pada Kongres ke-2 Wita Mori di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, masyarakat Mori secara resmi mengusulkan Mokole Marunduh sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tengah. Usulan tersebut didasarkan pada jasa, nilai perjuangan, serta warisan budaya yang hingga kini masih hidup dan mengakar di masyarakat.

Hingga saat ini, Sulawesi Tengah belum memiliki tokoh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kisah perlawanan Kerajaan Mori dan figur Mokole Marunduh pun dinilai layak mendapat perhatian lebih luas, tidak hanya sebagai sejarah lokal, tetapi sebagai bagian penting dari narasi besar perjuangan bangsa Indonesia.

 

Komentar