Podcast Spesial KPU Kabupaten Cirebon: Prof. Rokhmin Dahuri Bicara Kedaulatan Pangan dan Kepemimpinan Islami
ASKARA — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cirebon kembali menayangkan Podcast Spesial edisi ke-40 dengan tema “Kedaulatan Pangan, Kesejahteraan Petani, dan Peran Legislatif” pada Rabu (24/1). Program ini menjadi bagian dari komitmen KPU Kabupaten Cirebon dalam menghadirkan ruang edukasi publik yang informatif, inspiratif, dan relevan dengan isu-isu strategis bangsa. Podcast dipandu oleh Khairil Ridwan, S.H., Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Cirebon.
Hadir sebagai narasumber utama, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, M.Si, yang membahas secara mendalam tantangan dan peluang dalam mewujudkan kedaulatan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat peran legislatif dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Suasana diskusi itu terasa hangat, penuh semangat, ketika Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, M.Si berdiri sebagai narasumber utama. Rektor Universitas UMMI Bogor ini bukan hanya berbicara soal kedaulatan pangan, tetapi juga tentang makna kepemimpinan dalam perspektif Islam.
Dengan gaya tutur yang lugas namun penuh makna, Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejati bukan sekadar pengelola kekuasaan, melainkan menuntun umat menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Ia menekankan pentingnya pemimpin yang beriman, berakhlak mulia, serta berpihak pada kesejahteraan rakyat. Pemimpin muslim, dari presiden hingga kepala desa, harus meneladani empat sifat Nabi Muhammad SAW: siddiq, amanah, fathonah, dan tabligh.
“Seorang pemimpin muslim, entah itu presiden, anggota DPR, bupati hingga kepala desa, minimal harus meneladani empat sifat Nabi Muhammad SAW: siddiq (jujur), amanah (dipercaya), fathonah (cerdas dan visioner), serta tabligh (mampu menyampaikan kebenaran),” ujarnya.
Inspirasi dari Sejarah dan Teladan
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini mengajak untuk menengok kembali masa kejayaan Islam dari abad ke-7 hingga ke-18, yang ditandai oleh kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kesejahteraan umat.
Masa itu dikenal sebagai The Golden Age of Islam, ketika ulama sekaligus ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina memadukan iman dengan ilmu pengetahuan, melahirkan peradaban yang maju dan sejahtera.
“Kemajuan itu lahir dari kombinasi antara keimanan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan Muslim kala itu adalah ulama yang menguasai Al-Qur’an sekaligus pionir sains,” jelasnya.
Prof. Rokhmin mencontohkan sosok Khalifah Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Umar bin Khattab sebagai teladan, konglomerat sekaligus pemimpin yang saleh, dermawan, visioner dan kaffah dalam menjalankan ajaran Islam. Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari capaian materi, tetapi juga dari keberhasilan menuntun umat menuju ridha Allah SWT.
“Kemajuan lahir dari kombinasi iman dan ilmu. Itulah yang harus kita hidupkan kembali di Indonesia,” ujarnya penuh semangat.
Dalam diskusi, Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu menekankan bahwa kesejahteraan petani merupakan fondasi utama bagi tercapainya kedaulatan pangan. Ia menyoroti perlunya kebijakan legislatif yang berpihak pada petani. Akses permodalan, teknologi, hingga regulasi distribusi pangan yang adil., mulai dari akses permodalan, teknologi, hingga regulasi yang mendukung distribusi pangan secara berkeadilan.
"Sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan mampu menjawab tantangan global," ujarnya.
Perjalanan Hidup yang Menginspirasi
Kisah pribadinya membuat pesan itu semakin menyentuh. Lahir di kampung nelayan Gebang, Cirebon, ia tumbuh melihat ayah dan tetangganya berjuang di laut dengan penghasilan yang tak menentu.
"Saya lahir dan besar di kampung nelayan Gebang, Cirebon. Sejak kecil saya sudah akrab dengan kehidupan pesisir, melihat langsung bagaimana ayah, saudara, dan tetangga berjuang di laut. Banyak nelayan di Cirebon dan Indramayu yang hidupnya masih serba terbatas, penghasilan tidak menentu, dan sering kali tidak sebanding dengan kerja keras mereka," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, anggota Dewan Pakar MN-KAHMI itu. menyampaikan pandangannya tentang nasib nelayan di Cirebon–Indramayu serta perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga kini.
“Saya tahu betul bagaimana kerasnya hidup nelayan. Itulah sebabnya saya berkomitmen memperjuangkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada mereka,” ungkapnya.
Dari SD di Gebang Ilir, SMP di Ciledug, SMA di Cirebon, hingga kuliah di IPB, perjalanan Prof. Rokhmin penuh tantangan. Namun berkat doa orang tua dan kerja keras, ia berhasil meraih gelar doktor di Kanada.
"Perjalanan saya dari SD di Gebang Ilir, SMP di Ciledug, hingga SMA di Cirebon, lalu kuliah di IPB, bukanlah hal mudah. Namun berkat doa orang tua dan kerja keras, saya bisa melanjutkan studi hingga doktor di Kanada. Semua itu saya lakukan dengan satu tekad: bagaimana ilmu yang saya pelajari bisa kembali untuk membangun bangsa, terutama meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani kita. Dari kampung nelayan kecil di Cirebon, saya belajar bahwa keberhasilan sejati adalah ketika kita bisa mengangkat harkat hidup masyarakat," terangnya.
Itu sebabnya Prof. Rokhmin Dahuri berkomitmen memperjuangkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada nelayan, agar mereka bisa hidup lebih sejahtera. Kalau sumber daya ikan dikelola dengan baik, seorang anak buah kapal pun bisa membawa pulang penghasilan layak untuk keluarganya.
“Semua itu saya lakukan dengan satu tekad: ilmu yang saya pelajari harus kembali untuk membangun bangsa, terutama meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani,” tuturnya.
Sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004, ia membuktikan bahwa anak kampung nelayan bisa berdiri di panggung nasional, membawa suara rakyat kecil ke meja kebijakan.
Podcast itu bukan sekadar wacana akademik, melainkan sebuah ajakan nyata: membangun bangsa dengan kepemimpinan yang beriman, kebijakan yang berpihak pada rakyat, dan semangat kejayaan Islam yang berpadu dengan ilmu pengetahuan.
Prof. Rokhmin Dahuri menutup dengan pesan yang sederhana namun kuat: “Jadilah pemimpin yang adil, hartawan yang dermawan, dan rakyat yang beriman. Maka negeri ini akan diberkahi, maju, dan makmur.”

Komentar