Cerpen: Hari Hari Yang Tak Lagi Dihitung
ASKARA - Aku membaca kembali catatan pengeluaran bulanan itu di ruang tunggu yang sunyi. Angkanya rapi, logis, dan terasa akrab. Namun di antara deretan biaya makan, jajan, dan pengobatan, aku justru menemukan sesuatu yang tak pernah kucatat sebelumnya. Bukan soal kekurangan uang, melainkan cara hidup yang pelan pelan berubah tanpa kusadari.
Aku duduk sendirian, menunggu namaku dipanggil. Di kursi plastik yang dingin itu, aku membuka map cokelat berisi kertas kertas lama. Salah satunya catatan pengeluaran bulanan yang dulu rajin kubuat. Entah kenapa kubawa map ini hari ini. Mungkin karena kebiasaan lama yang belum benar benar pergi.
Baris pertama tentang makan bulanan. Beras, sayur, buah, gas, minyak goreng. Semua terlihat wajar. Aku mengangguk kecil. Hidup memang selalu dimulai dari dapur. Baris berikutnya membuatku tersenyum miring. Mbolang dan jajan. Angkanya lebih besar dari biaya makan. Aku terdiam sejenak, lalu tertawa pendek tanpa suara.
Entah sejak kapan jalan jalan kecil dan jajan ringan menjadi kebutuhan utama. Dulu, waktu masih bekerja, itu sekadar selingan. Sekarang, justru ia menjadi agenda yang paling sering kunanti. Seolah di situlah hidup bersembunyi, di sela warung kopi, pasar pagi, dan perjalanan tanpa tujuan jelas.
Aku lanjut membaca. Sumbangan resepsi mantu, takziah, pertemuan bulanan RT. Semua itu jarang terasa berat ketika dijalani. Namun di atas kertas, jumlahnya membentuk angka yang cukup panjang. Mungkin beginilah hidup bermasyarakat. Kita memberi tanpa banyak bertanya, lalu baru sadar ketika semuanya dijumlahkan.
Listrik, air, wifi, hape, pembersih rumah. Daftar langganan yang berjalan otomatis, seperti napas. Aku baru menyadari betapa hidup modern dipenuhi hal hal yang tak pernah benar benar kita pikirkan, tapi tak bisa kita lepaskan. Semuanya terasa kecil jika sendiri, tapi menjadi besar jika berdiri bersama.
BBM mobil dan motor, servis rutin. Kendaraan itu kini lebih sering mengantarku ke tempat tempat yang tak penting, tapi menyenangkan. Dulu ia saksi keterburu buruan berangkat kerja, rapat, dan target. Sekarang ia saksi bagaimana aku sengaja memperlambat waktu.
Baris terakhir membuat mataku berhenti. Pengeluaran darurat. Biaya perawatan sakit, beli obat. Angkanya tak kecil. Aku menghela napas. Kata darurat terdengar seperti sesuatu yang jarang, padahal bagiku ia datang cukup teratur. Hanya saja, aku selalu menolak menyebutnya kebiasaan.
Aku teringat masa sebelum pensiun. Biaya sekolah anak dan keponakan. Tiga anak, empat keponakan. Setiap bulan ada angka yang harus ditransfer. Anehnya, waktu itu aku tak pernah merasa keberatan. Mungkin karena saat itu hidupku punya arah yang jelas. Ada peran yang harus dijalani, ada tanggung jawab yang membuat lelah terasa masuk akal.
Setelah pensiun, hitung hitungan ini terasa berbeda. Bukan karena pengeluaran melonjak, tapi karena semuanya kembali padaku. Tak ada lagi dalih demi masa depan siapa siapa. Tak ada lagi alasan heroik. Semua murni tentang bagaimana aku memilih menjalani hari.
Aku menutup map itu perlahan. Tak perlu dipikir terlalu jauh, kataku dalam hati. Yang penting gigi masih lengkap dan kuat. Aku masih bisa menikmati makanan apa pun tanpa rasa ngilu. Masih bisa mengunyah dengan lahap. Sesuatu yang dulu tak pernah kupikirkan sebagai anugerah.
Mungkin itu sebabnya mbolang dan jajan menjadi pos terbesar. Aku sedang membeli rasa, membeli pengalaman kecil, membeli kebahagiaan sederhana yang bisa langsung kurasakan. Tak ada lagi waktu untuk menunda. Tak ada lagi kata nanti.
Namaku dipanggil. Aku berdiri dan melangkah masuk ke ruang dokter. Pemeriksaannya singkat, profesional, dan tenang. Setelah selesai, dokter menyerahkan beberapa lembar kertas. Aku mengangguk, mengucap terima kasih, lalu kembali ke kursi semula.
Aku membuka hasil pemeriksaan itu. Membacanya pelan. Tak ada kata kata dramatis. Hanya istilah medis dan catatan singkat di bagian bawah. Aku melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke dalam map yang sama.
Saat itulah aku sadar, catatan pengeluaran yang kubaca sejak tadi sebenarnya sudah tak relevan. Angka angka itu adalah rencana hidup jangka panjang, sementara hari ini aku baru saja diberi batas yang lebih pendek.
Aku berdiri, mengenakan jaket, dan melangkah keluar gedung. Map cokelat itu kutinggalkan di bangku ruang tunggu. Bukan karena lupa, melainkan karena untuk pertama kalinya aku tahu, ada hal hal dalam hidup yang memang tak perlu lagi dihitung. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar