Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:31
COMMUNITY

Reuni Rasa Jati Jakarta: Menyambung Energi, Merawat Persaudaraan

Reuni Rasa Jati Jakarta: Menyambung Energi, Merawat Persaudaraan
Anggota Raja Jati ketika kumpul bersama (Dok RJ)

ASKARA - Setelah bertahun-tahun terpisah oleh waktu dan kesibukan hidup, anggota Padepokan Perguruan Tenaga Dalam Rasa Jati (Roso Jati) Jakarta akhirnya kembali berkumpul dalam sebuah reuni penuh kehangatan. Pertemuan ini bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan momentum menyambung kembali ikatan batin yang lahir dari satu guru, satu ajaran, dan satu energi persaudaraan, Jumat (9/1).

Rasa Jati merupakan seni bela diri tenaga dalam yang berakar di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan dikembangkan oleh Guru Besar almarhum Broto Susanto. Perguruan ini dikenal bukan hanya mengajarkan kemampuan bela diri, tetapi juga pengolahan energi internal yang menekankan keseimbangan antara fisik, batin, dan spiritualitas.

Dalam ajaran Rasa Jati, energi dibangkitkan melalui latihan fisik sederhana, seperti gesekan kaki ke tanah, yang dipadukan dengan doa dan meditasi. Energi internal yang terlatih diyakini memiliki fungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan dan perlindungan diri, sekaligus membentuk ketenangan jiwa dan pengendalian diri.

Di Jakarta, Rasa Jati pernah berkembang luas dan diajarkan di berbagai lingkungan, mulai dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), hingga ruang-ruang sosial dan pendidikan seperti Gereja Katedral Jakarta dan Sekolah Fransiskus Pulo Mas. Penyebaran ini mencerminkan karakter Rasa Jati yang inklusif, lintas profesi, dan lintas keyakinan.

Dalam suasana reuni, para peserta mengenang masa latihan, disiplin yang ditempa, serta nilai-nilai kebersamaan yang ditanamkan oleh sang guru besar. Banyak di antara mereka meyakini, meski waktu memisahkan secara fisik, energi persaudaraan Rasa Jati tidak pernah benar-benar terputus.

“Rasa Jati bukan hanya soal tenaga dalam, tapi tentang rasa, rasa hormat, rasa persaudaraan, dan rasa syukur,” ujar Bambang Prihantoro.

Reuni ini diharapkan menjadi awal dari upaya menghidupkan kembali komunikasi antaranggota, sekaligus menjaga warisan ajaran Rasa Jati sebagai bagian dari kekayaan seni bela diri dan spiritual Nusantara yang menekankan kekuatan tanpa kekerasan.

 

Komentar