Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:04
Ruang Menulis

Cerpen: Pelukan yang Terlalu Sunyi untuk Cinta

Cerpen: Pelukan yang Terlalu Sunyi untuk Cinta
Ilustrasi

ASKARA - Di rumah kecil yang selalu tampak tenang, pelukan menjadi jawaban atas setiap kesalahan. Tidak ada bentakan, tidak ada amarah, hanya lengan yang melingkar dan senyum yang dipaksakan. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa itulah cinta paling dewasa. Hingga suatu hari, aku menyadari bahwa keheningan juga bisa melukai lebih dalam daripada suara keras.

Malam itu hujan turun pelan, seperti sengaja menjaga rahasia. Lampu ruang tengah menyala redup. Ayah berdiri di dekat sofa, lalu menarik ibu ke dalam pelukannya. Tidak tergesa, tidak ragu. Ibu menangis tanpa suara, wajahnya tersembunyi di dada ayah.

Aku duduk di sudut ruangan, memeluk lututku sendiri. Dari tempatku, pelukan itu terlihat hangat, tetapi entah mengapa dadaku terasa dingin.

Kesalahan ibu sederhana, setidaknya menurut pengakuannya. Ia menjual cincin kawin untuk membayar utang. Ayah tidak bertanya berapa, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya menarik napas panjang, seolah menelan sesuatu yang pahit, lalu memeluk ibu lebih erat.

Sudah, katanya pelan. Kita selesaikan baik baik.

Aku menunggu sesuatu yang lain. Suara meninggi, pintu dibanting, atau setidaknya desahan kecewa. Tidak ada. Yang ada hanya keheningan yang terasa panjang dan berat.

Sejak malam itu, ayah sering memeluk ibu. Terlalu sering. Setiap kali ibu tampak gelisah, ayah akan berdiri di belakangnya, meletakkan dagu di bahunya, mengunci tubuhnya dengan lengan yang tampak lembut. Ibu jarang menolak. Jika pun menoleh, matanya selalu kosong, seperti seseorang yang sudah selesai bertanya.

Aku tumbuh di rumah tanpa pertengkaran. Teman temanku bercerita tentang ayah yang marah dan ibu yang menangis. Aku hanya mengangguk, merasa keluargaku lebih dewasa. Ayah sering berkata, amarah hanya membuat luka terlihat. Pelukan menyelesaikan segalanya.

Namun ada malam malam ketika aku terbangun dan melihat cahaya dari ruang tengah. Ayah duduk sendirian, memandangi lantai. Tangannya terbuka di pangkuannya, gemetar sebentar sebelum ia mengepalkannya kembali. Ketika aku berdehem, ia cepat tersenyum dan merentangkan tangan, memintaku mendekat. Aku selalu datang. Aku selalu masuk ke dalam pelukan itu.

Waktu berjalan. Ibu semakin sering sakit. Ayah semakin pendiam. Pelukannya tidak berubah, tetapi rasanya berbeda. Lebih berat, lebih lama, seperti ingin memastikan sesuatu tidak pergi.

Di rumah sakit, ibu memintaku mendekat. Nafasnya pendek pendek, matanya menatap langit langit putih yang dingin. Tangannya menggenggam tanganku, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan ketakutan.

Ayahmu tidak jahat, katanya lirih. Tapi tidak semua pelukan adalah cinta.

Aku menahan napas.

Ia menutup mata sebentar, lalu membuka kembali, seolah mengumpulkan sisa keberanian. Ia bercerita tentang kesalahan lama yang tidak pernah kucurigai. Tentang pengkhianatan sebelum aku lahir. Tentang rahasia yang diketahui ayah sejak awal pernikahan mereka.

Ia tidak pernah memukulku, katanya. Tidak pernah membentak. Tapi setiap pelukan adalah pengingat bahwa aku hidup dalam pengampunan yang bisa ditarik kapan saja.

Kata katanya tidak keras, tetapi menghantamku. Aku teringat setiap pelukan ayah yang terasa terlalu lama, setiap senyum ibu yang tidak pernah benar benar sampai ke matanya.

Malam itu ayah datang ke rumah sakit. Ia memeluk ibu seperti biasa. Aku berdiri di samping ranjang, melihat tangan ayah yang sedikit gemetar sebelum mengencang. Ibu tidak membalas. Matanya menatap ke arahku, seolah menitipkan sesuatu yang tak sempat diucapkan.

Ibu meninggal beberapa hari kemudian.

Di pemakaman, ayah memelukku lama. Bau tanah basah bercampur dengan aroma tubuhnya yang kukenal sejak kecil. Aku hampir memejamkan mata, kembali menjadi anak yang percaya bahwa pelukan selalu aman.

Kamu tahu kenapa ayah memilih diam, bisiknya.

Aku tidak menjawab.

Jika ayah marah, orang akan bertanya. Jika ayah memukul, orang akan curiga. Tapi jika ayah memeluk, orang akan memuji.

Aku perlahan melepaskan diri. Untuk pertama kalinya, aku tidak masuk kembali ke dalam pelukan itu.

Di bawah langit yang kelabu, aku akhirnya mengerti. Ada cinta yang menghangatkan, dan ada pelukan yang terlalu sunyi, terlalu rapi, hingga menjadi cara paling halus untuk menguasai. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar