Selasa, 21 Juli 2026 | 18:33
NEWS

Energi Megathrust Mengalir ke Gunung Padang, Jawa di Ujung Bahaya?

Energi Megathrust Mengalir ke Gunung Padang, Jawa di Ujung Bahaya?
Ilustrasi Gunung Padang (Dok AI Askara)

ASKARA - Gunung Padang kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena statusnya sebagai situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga karena dugaan perannya sebagai peredam alami kelebihan energi bumi yang bersumber dari tekanan lempeng tektonik di selatan Pulau Jawa.

Pengamat geologi dan kebumian, Sutejo Setyo, menyebut Gunung Padang berada pada simpul strategis jalur pelepasan energi tektonik yang berasal dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Energi besar tersebut, menurutnya, tidak seluruhnya dilepaskan dalam bentuk gempa besar, melainkan dialirkan melalui sistem sesar aktif.

“Energi dari selatan Jawa itu sangat besar. Tidak semuanya menjadi gempa. Sebagian disalurkan melalui jalur sesar, terutama Sesar Cimandiri, lalu dilemahkan secara alami di titik-titik tertentu, salah satunya Gunung Padang,” ujar Sutejo, dikutip dari akun media sosialnya, Rabu (7/1).

Dalam perspektif ilmu kebumian, proses ini dikenal sebagai disipasi energi tektonik, yaitu mekanisme alam dalam mengurai tekanan berlebih agar tidak dilepaskan secara tiba-tiba dan destruktif. Gunung Padang, yang tersusun dari batuan andesit vulkanik berstruktur padat, dinilai memiliki kemampuan menyerap dan menstabilkan energi tersebut.

Secara ilmiah, batuan andesit dapat mengalami efek piezoelektrik alami, yakni menghasilkan muatan listrik mikro saat mendapat tekanan mekanik tinggi dan berulang. Energi ini kemudian dilepaskan perlahan dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau panas bumi, bukan guncangan besar.

Sutejo bahkan mengaitkan teori ini dengan fenomena cahaya anomali atau bola plasma yang kerap dilaporkan warga di wilayah Sukabumi, Cianjur, Bogor, hingga Bandung Raya. Fenomena tersebut, menurutnya, merupakan manifestasi energi listrik bawah tanah yang terionisasi saat mencapai permukaan.

“Banyak yang menyebutnya UFO, padahal itu fenomena geofisika. Warna cahaya menunjukkan besar kecilnya energi yang dilepas,” katanya.

Lebih jauh, Sutejo menilai Gunung Padang berfungsi sebagai resonator energi, yang menyeimbangkan tekanan dari beberapa sesar aktif sekaligus, termasuk Sesar Lembang. Bahkan, keberadaan Danau Ciburuy disebut dapat menjadi indikator alami meningkatnya tegangan energi bumi di kawasan tersebut.

Namun ia mengingatkan, peran Gunung Padang sebagai peredam energi bukan berarti wilayah sekitarnya aman dari bencana. Justru sebaliknya, wilayah Jawa Barat dinilai berada dalam kondisi aktif secara tektonik, sehingga gempa-gempa kecil hingga sedang akan tetap terjadi sebagai bagian dari mekanisme pelepasan energi alami.

“Yang perlu dipahami publik, gempa kecil itu justru tanda alam sedang bekerja menyeimbangkan diri. Bahaya muncul jika energi menumpuk terlalu lama,” tegasnya.

Sutejo mendorong agar Gunung Padang tidak hanya dilihat dari sudut arkeologi dan pariwisata, tetapi juga sebagai laboratorium alam kebumian yang layak diteliti secara serius dan berkelanjutan oleh negara.

 

 

Komentar