Caritas Indonesia Keluarkan Peringatan Dini Perdagangan Orang di Wilayah Pascabencana Sumatera
ASKARA - Caritas Indonesia (KARINA KWI) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya risiko perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pascabencana hidrometeorologi di Sumatera, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Peringatan ini disampaikan menyusul kondisi kerentanan masyarakat terdampak bencana yang kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, mata pencaharian, hingga dokumen resmi. Situasi tersebut dinilai membuka peluang bagi para pelaku perdagangan orang untuk menawarkan bantuan palsu berupa pekerjaan, relokasi, utang, hingga adopsi anak.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, menegaskan bahwa isu perdagangan orang merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. “Wilayah pascabencana kerap menjadi sasaran empuk predator perdagangan orang. Karena itu negara dan masyarakat sipil harus hadir memberikan perlindungan nyata,” ujarnya, Senin (5/1).
Melalui Komite Migran, Pengungsi, dan Anti-Perdagangan Orang, Caritas Indonesia mendesak pemerintah pusat dan daerah agar sigap mengamankan lokasi pengungsian serta rumah warga terdampak dari potensi masuknya pelaku perdagangan manusia. Pengalaman penanganan bencana di wilayah lain, seperti erupsi Lewotobi Laki-laki di NTT, menjadi pelajaran penting agar tragedi serupa tidak terulang.
Sebagai langkah pencegahan, Caritas Indonesia merekomendasikan peningkatan sosialisasi bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pascabencana, menjadikan isu ini sebagai program prioritas Gugus Tugas TPPO, serta membuka hotline pengaduan melalui WhatsApp 0811-9996-728 dan email [email protected].
Anggota Komite Caritas Indonesia sekaligus praktisi hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengungkapkan sejumlah modus yang kerap digunakan predator, mulai dari mengaku sebagai lembaga kemanusiaan, memanfaatkan kondisi emosional korban, menjanjikan pekerjaan dan perlindungan, hingga menekan korban agar bertindak cepat tanpa verifikasi.
Sementara itu, Romo Chrisantus Paschalis dari Batam menegaskan bahwa masa pemulihan pascabencana sering dimanfaatkan calo dan sindikat perdagangan orang. “Pada saat masyarakat paling rapuh, negara harus hadir memberi kepastian hukum dan perlindungan,” tegasnya.
Berdasarkan Situation Report Caritas Indonesia per 3 Januari 2026, bencana hidrometeorologi di Sumatera diperkirakan berdampak pada lebih dari 3,3 juta jiwa, dengan sekitar 1 juta orang mengungsi. Tercatat 1.157 orang meninggal dunia, 165 orang hilang, dan sekitar 7.000 orang luka-luka, serta 178.479 unit rumah rusak.
Selain pemantauan, Caritas Indonesia bersama jaringan keuskupan di Medan, Sibolga, dan Padang telah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa pangan, hygiene kit, shelter kit, serta layanan kesehatan dan dukungan psikososial bagi puluhan ribu warga terdampak.
Caritas Indonesia berharap peringatan dini ini dapat meningkatkan kewaspadaan semua pihak agar masyarakat korban bencana tidak kembali menjadi korban kejahatan kemanusiaan berupa perdagangan orang dan migrasi tidak aman.

Komentar