Bantuan Bioflok di Desa Kenanga, Prof. Rokhmin Dorong Tambahan Pendapatan dan Kesejahteraan Pembudidaya Ikan
ASKARA – Harapan baru bagi pembudidaya ikan di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, mulai terwujud melalui program bantuan budidaya ikan sistem bioflok. Program ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat desa.
Panen perdana direncanakan berlangsung pada Februari mendatang, dengan agenda kunjungan lapangan pada 11 Januari sebagai bagian dari pemantauan dan pendampingan program. Sebanyak 8 kolam bioflok kini dikelola secara berkelompok oleh 10 orang pembudidaya, dengan dukungan penuh dari penyuluh perikanan setempat.
Total bantuan yang digelontorkan mencapai Rp200 juta, mencakup pembangunan atap, pembuatan kolam bioflok, serta penyediaan pakan untuk satu siklus produksi. Bantuan ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi masyarakat Desa Kenanga untuk mengembangkan usaha perikanan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah, sebagai bentuk terima kasih kepada pemilih saya saat berjuang di DPR RI tahun lalu untuk Indramayu, Cirebon, dan Kabupaten Cirebon, saya berusaha membawa bantuan baik dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satunya adalah program bioflok ini senilai Rp200 juta,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor dalam keterangannya, Ahad (4/1).
Dengan sistem bioflok, pembudidaya tidak hanya mengandalkan pakan buatan, tetapi juga memanfaatkan bakteri baik yang mengolah sisa pakan menjadi pakan alami. Metode ini terbukti menekan biaya produksi, ramah lingkungan, dan meningkatkan efisiensi budidaya.
Diperkirakan, setelah panen perdana, setiap anggota kelompok akan memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp2,5 juta. Namun, sebagian keuntungan akan disisihkan untuk pengembangan usaha.
“Saya berpesan agar Rp2,5 juta itu dibagi, tetapi Rp500 ribu disimpan untuk menambah jumlah kolam. Dengan begitu, tahun depan bukan hanya Rp2,5 juta, melainkan bisa Rp4 juta dan seterusnya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kerja keras dan perawatan fasilitas bantuan agar program ini berkelanjutan. “Bekerjalah dengan rajin, jangan malas. Rawatlah fasilitas dari pemerintah dengan baik supaya bisa terus memberi manfaat,” tegasnya.
Keunggulan lokasi Desa Kenanga yang berada di kawasan industri kerupuk ikan juga menjadi nilai tambah. Hasil budidaya bioflok dapat langsung diserap oleh pabrik-pabrik kerupuk ikan di sekitar wilayah tersebut. Rantai distribusi yang lebih pendek membuat harga lebih stabil dan nilai ekonomi pembudidaya meningkat.
Melalui program ini, masyarakat Desa Kenanga diharapkan mampu bekerja secara profesional, menjaga amanah bantuan pemerintah, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk pengembangan usaha di masa depan. Dengan pengelolaan yang baik dan pemasaran yang tepat, bioflok di Desa Kenanga berpotensi menjadi model sukses pemberdayaan ekonomi lokal berbasis perikanan.

Komentar