Gunung Padang Terjaga, Energi Kuno Bangkit Menjelang 2026
Tidak Semua Jiwa Berani Mendengar
ASKARA - Saat kalender bersiap berganti, Gunung Padang di Kabupaten Cianjur tak sekadar berdiri sebagai situs megalitikum. Di penghujung 2025, tempat ini kembali dipandang sebagai gerbang sunyi, ruang di mana manusia melepaskan beban batin, menutup siklus lama, dan bersiap memasuki perjalanan baru.
Kabut yang turun perlahan di antara teras-teras batu kuno, udara dingin yang menusuk, serta keheningan yang nyaris tanpa suara, menciptakan suasana yang oleh banyak orang disebut sebagai “hidup”. Gunung Padang seolah mengundang mereka yang datang bukan untuk bersorak, tetapi untuk diam.
Pengamat spiritual Dar Edi Yoga menyebut, akhir tahun adalah momentum alamiah bagi manusia untuk kembali ke pusat kesadarannya. Menurutnya, Gunung Padang menyimpan daya tarik spiritual yang kuat karena menjadi titik temu antara sejarah, alam, dan kesadaran batin.
“Gunung Padang bukan tempat mencari sensasi. Ini ruang ujian kejujuran pada diri sendiri. Banyak yang datang membawa kegelisahan, tapi pulang dengan kesadaran baru,” ujar Dar Edi Yoga, Senin(29/12).
Ia menilai, batu-batu raksasa yang tersusun di Gunung Padang adalah saksi lintas zaman, menyimpan memori peradaban Nusantara yang menghormati keseimbangan antara manusia dan semesta. Dalam keheningan itu, menurutnya, alam seperti berbicara tanpa suara.
Dar Edi Yoga mengingatkan, refleksi di Gunung Padang tidak membutuhkan ritual rumit. Cukup niat yang bersih, sikap hormat, dan kesediaan untuk mendengarkan batin sendiri. “Di tempat seperti ini, kebohongan pada diri sendiri sulit dipertahankan,” katanya.
Ia juga menyebut, banyak orang merasakan getaran batin yang berbeda saat berada di Gunung Padang, terutama menjelang pergantian tahun. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut menjadi titik balik, bukan karena hal gaib yang menakutkan, tetapi karena keheningan yang memaksa manusia berdamai dengan dirinya.
Menutup 2025, Gunung Padang berdiri sebagai penjaga sunyi waktu. Bukan menjanjikan jawaban, tetapi menawarkan ruang bagi manusia untuk bertanya, siapa dirinya, ke mana ia melangkah, dan apa yang perlu ditinggalkan sebelum memasuki 2026.

Komentar