Misa Pagi, Salaman Terakhir, Kenangan Hangat Bersama Romo Mudji
ASKARA - Kepergian Romo Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ terus meninggalkan jejak kenangan mendalam bagi banyak orang dari berbagai latar belakang. Sejumlah kesaksian personal bermunculan, menggambarkan sosok Romo Mudji yang hangat, sederhana, dan tetap aktif melayani hingga menjelang wafat.
Maya, salah satu umat, mengenang perjumpaan terakhirnya dengan Romo Mudji pada Minggu pagi di Canisius College (CC). Saat itu, Romo Mudji masih memimpin Misa dan melayani umat secara penuh.
“Tadi pagi saya misa di Canisius College yang dibawakan Romo Mudji. Setelah misa masih sempat ngobrol dan salaman,” kenang Maya, Minggu (28/12).
Ia juga menyebutkan bahwa pada Misa Natal di CC, Romo Mudji tetap hadir bersama komunitas kongregasi dan membagikan hosti kepada umat, menunjukkan dedikasi pelayanan hingga saat-saat terakhir hidupnya.
Kenangan serupa datang dari Stev Truman Fernandez yang pernah berinteraksi dengan Romo Mudji dalam suasana sederhana di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini.
“Saya pernah traktir makan soto Romo Mudji Sutrisno SJ di depan TIM Cikini. Mau saya antar pulang, tapi beliau menolak, katanya dekat dan bisa jalan kaki karena tinggal di Canisius. Almarhum suka nongkrong di TIM, ngobrol santai di kantin,” tutur Stev.
Sementara itu, Anggota Dewan Pakar PWI Pusat, Raldy Doy, juga menyampaikan kesaksiannya. Ia mengaku baru bertemu dengan Romo Mudji sekitar dua minggu lalu di Kanisius Mas.
“Baru ketemu sekitar dua minggu lalu di Kanisius Mas. Selamat jalan Romo Mudji. Bahagia kekal di surga,” ujar Raldy.
Berbagai kesaksian ini menegaskan bahwa Romo FX Mudji Sutrisno, SJ bukan hanya dikenal sebagai rohaniawan, intelektual, dan budayawan besar, tetapi juga sebagai pribadi yang membumi, dekat dengan umat, serta menghadirkan kehangatan dalam setiap perjumpaan.
Kepergian Romo Mudji meninggalkan duka mendalam, namun kenangan dan keteladanan hidupnya akan terus hidup di hati banyak orang.

Komentar