Rabu, 17 Juni 2026 | 22:07
TRAVELLING

Catatan Mistis dari Teras Lima Gunung Padang, Ketika Kehampaan dan Kekuatan Bertemu

Catatan Mistis dari Teras Lima Gunung Padang, Ketika Kehampaan dan Kekuatan Bertemu
Teras lima Gunung Padang di malam hari (Dok Askara)

ASKARA - Malam Jumat 4 Desember itu, hujan turun pelan di Gunung Padang. Kabut menggantung rendah, menutup sebagian pandangan, seolah alam sengaja membatasi apa yang boleh dilihat mata manusia. Dalam suasana itulah, Rinto berjalan bertiga bersama Budi dan Ochin menuju Teras 5.

Secara kasatmata, mereka berjalan bersama. Namun bagi Rinto, kehadiran dua kawan di sampingnya tidak mengusir perasaan ganjil yang sejak awal menyelubungi langkahnya. Ia merasakan kehampaan yang luar biasa, kosong yang hadir bukan karena sendiri, tetapi justru karena sesuatu sedang membuka ruang lain di dalam dirinya. Suara langkah terasa menjauh, dunia seakan ditarik perlahan, meninggalkan dirinya berjalan di antara batas yang tak bernama.

Sementara itu, Budi melangkah dengan tubuh yang sesungguhnya sedang tidak dalam keadaan baik. Sejak beberapa hari sebelumnya, badannya diliputi panas dingin dan batuk yang belum reda. Secara nalar, perjalanan malam hari menuju teras tertinggi Gunung Padang seharusnya tidak ia paksakan. Namun ada dorongan yang tak bisa ia tolak, bukan ambisi, melainkan panggilan halus yang membuatnya tetap melangkah.

Anak tangga demi anak tangga dilalui Budi dengan perlahan. Anehnya, tubuh yang semula terasa lemah justru tidak menyerah. Seolah ada kekuatan lain yang menopang setiap langkah. Bukan kekuatan otot, melainkan daya tahan yang datang dari ketenangan. Ia tidak merasa sedang menaklukkan gunung, justru seperti sedang dituntun.

Gunung Padang malam itu memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda. Kepada Rinto, ia menghadirkan kehampaan, sunyi yang pekat, hampir menghapus batas antara diri dan ruang. Kepada Budi, ia menghadirkan kekuatan, ketahanan yang muncul di saat tubuh seharusnya runtuh.

Setibanya di Teras 5, hujan masih turun dan tempat itu tampak sepi. Namun sepi di sana bukan ketiadaan. Di tengah kehampaan yang dirasakan Rinto, sebuah irama perlahan muncul. Tidak ada alat musik. Tidak ada pertunjukan. Namun ritme itu nyata, mengalir seperti denyut dari tanah yang mereka pijak.

Tanpa disadari sepenuhnya, tubuh Rinto bergerak. Ia menari mengitari Teras 5, mengikuti irama yang hanya ia dengar. Gerakannya bukan tarian yang dirancang, melainkan tarian yang seolah dipinjamkan, seakan Gunung Padang sedang berbicara lewat tubuh manusia.

Di saat yang hampir bersamaan, Budi berhenti sejenak untuk berdoa. Doanya singkat, sederhana, tanpa banyak kata. Gerimis perlahan mereda. Awan seperti membuka celah. Dan tubuhnya, yang sejak berhari-hari terasa sakit, mendadak terasa ringan. Rasa lemah tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi berkuasa. Ia merasa dikuatkan.

Ochin menyaksikan semua itu dalam diam. Tidak ada yang saling bertanya. Tidak ada yang mencoba menjelaskan. Mereka bertiga tahu, ada peristiwa yang tak perlu diterjemahkan menjadi kata.

Ketika akhirnya mereka turun meninggalkan Teras 5, kehampaan yang dirasakan Rinto berubah menjadi kesadaran, dan kekuatan yang dirasakan Budi berubah menjadi syukur. Gunung Padang kembali sunyi, seolah menutup rapat apa yang baru saja terjadi.

Namun yang tertinggal bukanlah cerita mistis semata, melainkan pelajaran:
bahwa di tempat tertentu, kehampaan dan kekuatan bukanlah lawan,
melainkan dua cara alam menyentuh manusia.

Dan Gunung Padang, dalam diamnya, masih terus menunggu siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

 

Komentar