Kamis, 23 Juli 2026 | 13:38
NEWS

S.O.S

Hampir Tiga Pekan Terisolir, Sembilan Desa Pining Terancam Krisis Kemanusiaan

Hampir Tiga Pekan Terisolir, Sembilan Desa Pining Terancam Krisis Kemanusiaan
Ilustrasi save our souls Aceh (Dok Askara)

ASKARA - Ketua Yayasan Hakka Banda Aceh, Aky, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi sembilan desa di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, yang hingga kini masih terisolir hampir tiga pekan pascabencana banjir bandang dan longsor.

Menurut Aky, secara teori akses ke wilayah Pining masih memungkinkan melalui Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Namun medan yang sangat berat membuat jalur tersebut nyaris tidak bisa dilalui relawan maupun bantuan logistik. “Sebenarnya bisa masuk dari Abdya, tapi karena medannya berat, sangat jarang yang bisa tembus. Kalau pemerintah bergerak cepat, ini seharusnya bisa diatasi sejak awal,” ujarnya, Jumat (19/12).

Aky mengungkapkan, pihaknya telah berupaya menggalang relawan dari Aceh Barat Daya dengan pusat koordinasi di Blangpidie. Namun hingga kini, jumlah relawan yang bersedia dan mampu menembus medan ekstrem masih sangat terbatas. “Saya sudah galang teman-teman di Abdya, tapi memang sulit mendapatkan relawan karena risiko di lapangan sangat tinggi,” katanya.

Upaya relawan Yayasan Hakka Banda Aceh sejauh ini baru mampu mencapai wilayah perbatasan antara Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Sementara itu, tim relawan masih terus berjuang menembus wilayah terdalam Kabupaten Bener Meriah yang juga masih terisolir.

“Medan di Gayo Lues, Bener Meriah, hingga Takengon itu pegunungan dan perbukitan. Titik banjir bandang dan longsor sangat banyak. Kita sama sekali tidak bisa memastikan di mana saja longsor terjadi, apakah di jalan, jembatan, atau jalur setapak,” jelas Aky.

Ia mencontohkan kondisi jalur dari Aceh Utara menuju Bener Meriah melalui Jalan KKA-Gunung Salak yang mengalami kerusakan parah. “Di jalur itu ada hampir enam titik jalan yang putus dan berubah menjadi jurang. Akses darat praktis lumpuh,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Aky menegaskan bahwa penggunaan helikopter menjadi satu-satunya solusi paling praktis dan aman untuk menjangkau wilayah-wilayah terisolir. Ia mendesak pemerintah, khususnya pemerintah pusat, untuk segera turun tangan.

“Pemerintah pusat harus segera membantu Aceh. Kalau terlambat, korban akan bertambah banyak. Satu-satunya akses yang realistis saat ini hanyalah helikopter,” tegasnya.

Aky berharap penanganan bencana di kawasan pegunungan Aceh dapat menjadi prioritas nasional, mengingat kompleksitas medan dan besarnya risiko kemanusiaan yang masih mengintai ribuan warga di wilayah terisolir.

 

 

Komentar