Menghadang "Pintu Masuk" Narkoba
Oleh: Levina Ayudiakusuma | Mahasiswa Pascasarjana, Universitas Paramadina, Jakarta
ASKARA - Di zaman ketika layar gawai hadir di setiap meja, saku, dan genggaman, ibarat jendela dunia yang tak pernah tidur, bahaya Narkoba bertransformasi. Tak lagi hanya lewat paket gelap atau pertemuan terselubung, kini Narkoba menyusup masuk lewat video viral, unggahan media sosial, bahkan meme yang tampak ringan.
Survei Prevalensi Nasional BNN, BRIN dan BPS Tahun 2023, menunjukkan bahwa Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba mencapai 1,73% atau sekitar 3,3 juta orang penyalahguna (dalam rentang usia 15 s.d. 64 tahun). Mayoritas Penyalahguna Narkoba adalah kelompok usia produktif 15 s.d. 49 tahun, termasuk pada remaja.
Bagi remaja yang tumbuh dengan click, swipe, dan feed, ancaman itu menjadi “kabut” halus yang sulit dikenali. Di sinilah letak tugas baru sebagai upaya preventif, komunikasi penyuluhan harus berubah dari menyampaikan materi di ruang terbatas, menjadi menjalin dialog melalui layar yang sama, memahami logika budaya digital, dan membangun narasi antisipatif.
Realitas ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana cara penyuluhan Narkoba tetap relevan ketika bahaya berpindah bentuk dari fisik ke layar digital? Jika satu video berdurasi 15 detik bisa menjangkau ribuan remaja dalam hitungan menit, akankah pertemuan tatap muka mampu menyaingi dinamikanya? Dalam konteks ini, efektivitas komunikasi penyuluhan diuji bukan hanya oleh kebenaran pesan tetapi oleh kepekaan terhadap media, bahasa, dan kultur generasi zaman sekarang.
Antara Hiburan dan Bahaya: “Kabut” di Balik Layar
Transaksi Narkoba melalui media digital menjadi ancaman, namun bagaimana Narkoba dikomunikasikan dan diterima berhasil menyusup ke pikiran Gen Alpha dan Gen-Z juga harus diwaspadai. Edukasi dengan pendekatan moral atau himbauan kerap dianggap “basi”, “tidak gaul”, atau tidak relevan. Ini adalah tantangan komunikasi: pesan baik bisa tenggelam oleh arus sensasi jika tidak dikemas dengan gaya, ritme, dan empati yang sesuai.
Konten berdurasi singkat di TikTok atau Instagram Reels dapat membentuk persepsi publik lebih cepat daripada edukasi satu jam. Narasi menyesatkan tentang “ganja medis,” atau “vape hanya uap rasa” menyebar luas tanpa filter. Ketika remaja mencari jawaban tentang bahaya Narkoba, mereka lebih sering menemukan opini influencer daripada penjelasan ilmiah. Perilaku remaja kini lebih dipengaruhi oleh algoritma. Mesin rekomendasi platform digital dapat menuntun pengguna pada konten yang semakin ekstrem: dari penggunaan vape, ke nikotin tingkat tinggi, hingga eksperimen zat berbahaya lainnya.
Mengapa Penyuluh Narkoba Harus Hadir di Dunia Digital?
Penyuluh Narkoba yang terbiasa dengan metode ceramah bisa menghadapi risiko besar: suara mereka akan terdengar “tua”, dan pesan mereka gagal menembus generasi digital saat ini seiring dengan gempuran gelombang konten modern. Mereka harus menghadirkan narasi tandingan yang kompetitif di ruang digital.
Dari sudut pandang mahasiswa komunikasi yang juga terlibat penyuluhan, solusi harus dipikirkan ulang dengan kreatif dan kontekstual. Penyuluhan hari ini bukan sekadar berbagi data atau larangan tetapi merangkai narasi yang relevan dengan dunia remaja yang akrab dengan meme, reel, story, dan thread. Komunikasi harus mampu menjawab logika digital: cepat, visual, empatik, dan reflektif. Misalnya, bukan cukup dengan menyatakan “Narkoba berbahaya” bagi otak dan tubuh, tetapi dengan menggambarkan bagaimana kondisi “setelah Narkoba” bisa merusak hubungan sosial dan masa depan sebagai cerita nyata, bukan sekadar teori.
Banyak orang menganggap Penyuluh Narkoba hanya sebagai pembawa materi sosialisasi. Padahal penyuluh adalah garda terdepan pencegahan sebagai pendidik, komunikator publik, penggerak komunitas, dan agen perubahan sosial. Penyuluh Narkoba dituntut berbasis data, memahami tren kejahatan Narkoba, serta menyampaikan edukasi yang responsif terhadap isu terkini. Ketika dunia digital menjadi ruang utama interaksi anak dan remaja, maka Penyuluh harus bertransformasi menjadi komunikator lintas kanal yang tidak hanya berbicara, tetapi juga mampu membangun percakapan.
Perubahan perilaku tidak terjadi di ruang kosong. Ia dipengaruhi oleh lingkungan rumah, sekolah, dan kini yang paling dominan adalah lingkungan digital. Maka penyuluh tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan tatap muka. Mereka harus hadir dalam format yang familiar bagi remaja: video pendek, infografik, konten storytelling, atau diskusi live streaming.
Hadir di ruang digital bukan berarti menjadi “selebriti,” tetapi menjadi “otoritas” yang dapat diakses.” Ketika masyarakat ingin tahu apakah suatu produk berbahaya atau ada tren penyalahgunaan baru, Penyuluh harus menjadi sumber rujukan pertama. Kehadiran ini bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan untuk menjaga relevansi dan efektivitas program pencegahan.
Untuk menjawab tantangan era digital, Penyuluh perlu mengadopsi sejumlah peran baru seperti sebagai Content Curator yang memilih, merangkai, dan menyebarkan informasi yang akurat, menarik, dan mudah dipahami. Penyuluh tidak harus selalu membuat konten baru, tetapi bisa memperkuat konten edukatif yang sudah ada, menyederhanakan konsep ilmiah, dan memberikan konteks agar publik tidak salah paham. Penyuluh yang konsisten hadir di media sosial secara profesional akan membangun kepercayaan publik, terutama di kalangan remaja dan orang tua.
Dalam perspektif Elaboration Likelihood Model (ELM), penyuluhan narkoba di era layar digital menghadapi tantangan karena remaja lebih sering memproses informasi melalui peripheral route (jalur tepi) berfokus pada bagaimana sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak berhubungan langsung dengan pesan atau argumen yang disampaikan dengan kata lain secara cepat, dangkal, dan sangat dipengaruhi konten visual yang berseliweran di gawai mereka, yang kini menjadi “pintu masuk” berbagai pengaruh termasuk penyalahgunaan Narkoba.
Penyuluh perlu merancang pesan yang tidak hanya kuat secara substansi untuk mendorong central route (jalur sentral) dimana penyuluhan Narkoba difokuskan pada analisis yang kritis dan rasional terhadap informasi terkait bahaya dan konsekuensi penggunaan Narkoba, tetapi juga menarik secara visual dan relevan dengan budaya digital agar mampu bersaing dengan konten lain. Pendekatan ini memungkinkan pesan pencegahan tidak sekadar dilihat, tetapi benar-benar dipikirkan dan diinternalisasi oleh audiens remaja.
Menjaga Generasi dari Serbuan Konten
Narkoba memang bisa menyusup lewat layar, tetapi layar tidak selalu menjadi musuh, jika kita tahu cara menggunakannya. Tantangan penyuluhan di era digital bagaimana mengemas pesan pencegahan dapat hidup dan relevan di tengah konsumsi konten kilat. Untuk itu pentingnya memiliki literasi media dan transformasi metode penyuluhan yang mempunyai potensi strategis dalam merancang narasi baru: narasi yang tidak hanya mengingatkan bahaya, tetapi juga meneguhkan pilihan hidup sehat.
Pesan moral yang perlu diingat, bahaya yang paling berbahaya adalah yang tidak terlihat, tersembunyi di balik konten dan layar yang “tampak ramah”. Oleh karena itu, kita tidak cukup hanya menutup mata terhadap konten meresahkan, kita harus membuka pikiran, membekali diri dengan literasi, dan menjaga agar layar tetap menjadi “pintu” menuju masa depan yang lebih baik. Komunikasi yang empatik dan adaptif bisa menjadi pelindung ketika dunia digital berubah menjadi “medan” peredaran gelap Narkoba. Di sinilah tugas kita sekarang, menjaga generasi agar tidak tersesat di antara swipe dan scroll untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Komentar