Rabu, 22 Juli 2026 | 04:27
COMMUNITY

Jejak Kemanusiaan yang Tak Pernah Padam

Di Tengah Lumpur dan Kabel Sungai: Kisah Keteguhan Relawan BFLF Menolong Korban Bencana Sumatera

Di Tengah Lumpur dan Kabel Sungai: Kisah Keteguhan Relawan BFLF Menolong Korban Bencana Sumatera
Ketua BFLF Lhokseumawe dan Aceh Utara, Mutia Sari saat memandikan jenazah korban bencana di Aceh (dok.askara)

ASKARA - Bencana alam yang melanda Sumatera, khususnya wilayah Aceh, meninggalkan luka mendalam sekaligus kisah keteguhan hati para relawan. Di balik tragedi, kisah relawan BFLF (Blood For Life Foundation) menjadi inspirasi tentang keteguhan hati, keberanian, dan solidaritas. Mereka menembus lumpur, menantang fobia, dan menghadapi keterbatasan demi satu tujuan: menyelamatkan sesama. 

Bencana ini bukan hanya ujian bagi masyarakat Aceh, tetapi juga panggilan kemanusiaan yang menunjukkan bahwa di tengah gelapnya musibah, cahaya kepedulian tetap menyala.

Ketua BFLF Lhokseumawe dan Aceh Utara, Mutia Sari ST MSM, menuturkan pengalaman yang penuh ujian ketika terjun langsung membantu korban banjir di sekitar Bandara Malikussaleh.  

“Saya mendadak diminta bantu memandikan jenazah korban banjir. Baunya sangat menyengat, hampir menyerah. Tapi saya berpikir, bau jenazah itu adalah bau saya sendiri nanti. Maka akhirnya saya tenang saja waktu mandikan jenazah,” ungkap Mutia kepada askara, Jum'at (12/12). Ia menyebut ada 27 jenazah yang ditangani, 25 dari Paloh Raya dan 2 dari Pinto Makmur.  

Perjalanan menuju lokasi evakuasi pun penuh tantangan. Jalanan berlumpur membuat langkah terhenti berkali-kali. “Kalau jalannya tidak berlumpur mungkin cuma 10 menit, tapi karena jadi bukit lumpur bisa setengah jam,” ujarnya. Bahkan, Mutia sempat merasakan kakinya menginjak sesuatu yang menyerupai kepala manusia di antara lumpur. “Saya hanya bisa berdoa dan meminta izin, karena kalau tidak menapak di situ, saya bisa jatuh.”  

Ketegangan semakin terasa saat harus menyeberangi sungai dengan berpegangan pada kabel. Mutia yang memiliki fobia ketinggian hampir kehilangan tenaga. “Jantung saya hampir tidak kuat. Kami sempat berhenti sebentar agar bisa stabil,” katanya.  

Di tengah keterbatasan akses, masyarakat banyak melakukan evakuasi mandiri. Namun, hingga hari-hari berikutnya masih ada yang belum terbantu. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam: telur ayam mencapai Rp100 ribu per papan, beras sulit ditemukan, bahkan kualitas beras yang dijual menurun.  

Ketua BFLF Lhokseumawe dan Aceh Utara, Mutia Sari membagikan sembako 

BFLF Lhokseumawe bergerak cepat. Pada 30 November 2025, mereka menyalurkan bantuan berupa sembako, pakaian layak pakai, kain sarung baru, roti kering, kue basah, air mineral, handuk, dan obat-obatan. Bantuan ini disalurkan ke Desa TP Beurandang, Auditorium Kampus Unimal, dan sebuah pesantren di Muara Batu. Penyaluran dilakukan sejak 29 November melalui hasil open donasi.  

Selain itu, BFLF menjadi call center evakuasi sejak hari pertama banjir. Laporan masyarakat diteruskan ke Lanal, Lanud, Kopasgat, dan tim SAR Unimal. Mereka juga meminjamkan mobil untuk mengantar makanan siap saji ke pengungsi di ujung pacu Kota Lhokseumawe, serta tabung gas untuk dapur umum Pemko Lhokseumawe di Islamic Center.  

Evakuasi dilakukan tanpa henti, 24 jam penuh. Mutia menceritakan perjalanan panjang: berjalan kaki 9 jam ke Bener Meriah, naik pesawat komersil ke Banda Aceh, lanjut dengan mobil L300 ke Kutablang, naik boat, lalu kembali dengan mobil ke Lhokseumawe.  

Di lapangan, kondisi pengungsi sangat memprihatinkan. Banyak yang hanya mengenakan celana pendek selama seminggu tanpa berganti pakaian. Di Aceh Tengah, harga bensin mencapai Rp80 ribu per liter. Di Langkahan, rumah hanyut terbawa arus. Di Jambo Aye, rumah hilang entah ke mana.  

“Pengungsi di Aceh Tamiang sudah banyak yang minta baju. Mereka tidak punya pakaian lagi. Banyak yang sakit demam, tidak tahu harus mencari obat ke mana. Persediaan makanan pun habis,” jelas Mutia.  

Kisah paling menyayat hati adalah ketika jembatan putus, dan satu-satunya cara menyeberang hanyalah berpegangan pada kabel di atas sungai. “Bayangkan kalau ada yang membawa anak atau bayi. Kami sudah lihat kemarin, sedih sekali,” tuturnya.  

Evakuasi mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah

Selamatkan Mahasiswa Terdampak Bencana di Bener Meriah

BFLF  Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan mengevakuasi sejumlah mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah yang terdampak bencana alam di wilayah Bener Meriah. Ketua BFLF, Mutia Sari, turun langsung ke lokasi meski akses menuju daerah tersebut sempat terputus akibat jembatan ambruk dan jalanan lumpuh.  

“Bantuan ini diperoleh dari Open Donasi yang BFLF LSM’ACUT galang sejak hari pertama bencana. Obat-obatan bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk masyarakat yang kami jumpai sepanjang perjalanan berjalan kaki,” ujar Mutia.  

Perjalanan Penuh Risiko

Mutia bersama tim evakuasi dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe menempuh perjalanan kaki selama sembilan jam sambil membawa obat-obatan. Dalam perjalanan, mereka menemukan seorang mahasiswi bernama Humairah dalam kondisi kritis—sakit dan tiga hari tanpa infus karena keterbatasan fasilitas di lokasi Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM).  

Melihat situasi gawat, Mutia segera mengevakuasi Humairah ke Banda Aceh. Ia didampingi oleh Lili, mahasiswa lain yang juga terdampak bencana. Dengan penuh perjuangan, keduanya membawa Humairah menggunakan pesawat komersial menuju Banda Aceh. Setibanya di bandara, ambulans yang sudah disiapkan langsung membawa Humairah ke Klinik Ka Sehat Wal Afiat, Sibreh, Aceh Besar, di mana ia mendapat perawatan intensif dan dijenguk oleh keluarga.  

Setelah proses serah terima kepada keluarga, Mutia melanjutkan perjalanan pulang ke Lhokseumawe menggunakan mobil L300. Namun, akses menuju Kutablang kembali terputus akibat jembatan ambruk. Mutia terpaksa menyeberang menggunakan perahu boat pada tengah malam sekitar pukul 00.00 WIB, meski operasional perahu biasanya berakhir pukul 18.00 WIB.  “Alhamdulillah Allah mudahkan perjalanan kami,” ucap Mutia penuh syukur.  

Setelah menyeberang, perjalanan darat kembali ditempuh hingga akhirnya Mutia tiba di rumah sekitar pukul 02.00 WIB.  

Mutia menegaskan bahwa aksi cepat dan komitmen yang ditunjukkan dalam proses evakuasi merupakan bentuk tanggung jawab BFLF dalam memastikan keselamatan mahasiswa serta masyarakat terdampak bencana.  

Dengan segala keterbatasan, BFLF Lhokseumawe membuktikan bahwa solidaritas dan kepedulian mampu menembus gelap malam, lumpuhnya akses, dan beratnya medan.

Jejak Kemanusiaan yang Tak Pernah Padam

Lhokseumawe dan Aceh Utara memiliki sebuah komunitas sosial yang menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan: Blood For Life Foundation (BFLF) Lhokseumawe, dipimpin oleh Mutia Sari ST MSM. Cabang ini lahir dari kepedulian terhadap kebutuhan darah yang mendesak di masyarakat, namun kiprahnya berkembang jauh melampaui itu—menjadi simbol solidaritas dan harapan bagi banyak orang.  

• Donor Darah Rutin

BFLF Lhokseumawe secara konsisten mengadakan kegiatan donor darah massal. Aksi ini bukan hanya memenuhi kebutuhan medis di rumah sakit, tetapi juga menggerakkan semangat gotong royong masyarakat. PMI pun berkali-kali memberikan apresiasi atas kontribusi mereka.  

• Bantuan Kemanusiaan

Selain darah, BFLF juga menyalurkan beras dan bantuan pangan kepada keluarga kurang mampu serta anak yatim piatu. Program ini menjadi jaring pengaman sosial di tengah naik-turunnya harga kebutuhan pokok.  

• Acara Sosial

Kegiatan sunatan massal gratis bagi anak yatim dan fakir miskin menjadi salah satu program yang paling menyentuh hati. Dengan pendekatan penuh kasih, BFLF memastikan bahwa anak-anak dari keluarga rentan tetap mendapatkan hak kesehatan dan perhatian.  

• Evakuasi Bencana

Ketika bencana melanda, BFLF hadir di garis depan. Baru-baru ini, mereka aktif mengevakuasi mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah yang terjebak banjir di Bener Meriah. Aksi ini menunjukkan bahwa kepedulian mereka tidak terbatas pada satu sektor, melainkan meluas ke segala situasi darurat.  

Audiensi dengan Pemerintah
Mutia Sari sebagai ketua BFLF kerap melakukan audiensi dengan pejabat daerah untuk membahas program kemanusiaan. Langkah ini memperkuat kolaborasi antara komunitas dan pemerintah, sehingga bantuan dapat lebih terarah dan berkelanjutan.  

Latar Belakang

BFLF Lhokseumawe dibentuk dari keprihatinan atas sulitnya akses darah di wilayah tersebut. Namun, seiring waktu, organisasi ini berkembang menjadi pusat aksi sosial yang menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kepedulian kolektif.  

Dengan semangat kebersamaan, BFLF Lhokseumawe telah menjelma sebagai komunitas inspiratif yang tidak hanya menyelamatkan nyawa melalui donor darah, tetapi juga menguatkan masyarakat lewat bantuan pangan, kegiatan sosial, hingga evakuasi bencana.  

Di tengah tantangan sosial dan bencana yang kerap melanda Aceh, BFLF Lhokseumawe berdiri sebagai bukti bahwa kemanusiaan adalah energi yang tak pernah padam. Dari setetes darah hingga sebutir beras, dari audiensi resmi hingga aksi di medan lumpur, mereka terus menyalakan harapan bagi sesama.

Komentar