Kamis, 04 Juni 2026 | 05:35
COMMUNITY

Buyung Lalana Resmi Lantik PB FMI Periode 2025-2029

Tegaskan Profesionalisme dan Budaya Keselamatan

Buyung Lalana Resmi Lantik PB FMI Periode 2025-2029
Ketua Umum PB FMI, Mayjen Marinir (Purn.) Buyung Lalana, SE foto bersama dengan pengurus PB FMI Periode 2025-2029

ASKARA - Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) periode 2025-2029 resmi dilantik oleh Ketua Umum PB FMI, Mayjen Marinir (Purn.) Buyung Lalana, SE, pada Minggu, 23 November 2025 di Pelindo MTI Multi SCM, Tanjung Priok.

Dalam sambutannya, mantan Danlantamal XI Merauke itu menegaskan pentingnya profesionalisme, integritas, dan budaya keselamatan dalam aktivitas pendakian gunung yang kini berkembang pesat sebagai olahraga dan gaya hidup.

"Mountaineering bukan hanya tentang mendaki gunung, tetapi mencerminkan karakter, disiplin, dan kepedulian terhadap keselamatan. Saya berharap seluruh pengurus bekerja solid dan progresif untuk memajukan organisasi," ujar Buyung Lalana.

Pelantikan dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang membahas arah kebijakan strategis organisasi untuk lima tahun ke depan, meliputi penguatan struktur organisasi, standarisasi keselamatan pendakian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta perluasan kerja sama dengan berbagai mitra di tingkat nasional dan internasional.

Sejumlah tokoh dan mitra organisasi hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua IATA Amalia Yunita, Ketua APGI Rahman Mukhlis, perwakilan FPTI Jakarta Utara Zaky, Direktur PJLHK Kementerian Kehutanan Dr. Ir. Nandang Prihadi, serta Presiden Papua Mountaineering Association Maximus Tipagau.

Pada kesempatan yang sama, PB FMI juga melantik Ketua Pengprov FMI Papua Selatan, Adrianus Moromon, sebagai bagian dari strategi memperkuat jaringan dan tata kelola organisasi hingga ke wilayah timur Indonesia yang memiliki potensi besar di bidang mountaineering.

Pelantikan PB FMI periode 2025-2029 ini menjadi momentum baru dalam mempertegas komitmen organisasi untuk terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat tata kelola, serta menjunjung tinggi etika dan keselamatan pendakian di seluruh Indonesia.

 

 

Komentar